Let’s continue with Baroque Music !
Kata Baroque diperkirakan berasal dari bahasa Protugis kuno “barroco” yang berarti mutiara yang memiliki bentuk yang tidak bundar teratur namun lekukannya sangat kompleks dan detail. Terminologi Baroque dalam konteks informal sering dikaitkan dengan elaborasi (detail, complex, highly structured).

“The Abduction of Europa” by Rembrandt
Let’s see bagaimana style Baroque yang berkembang pada abad ke-17 dalam berbagai bidang selain musik sebelum melihat bagaimana musik Baroque itu sendiri.
Arsitektur Baroque memiliki beberapa karakteristik, diantaranya naves yang zaman sebelumnya panjang dan sempit digantikan oleh bentuk yang lebih lebar dan sirkular, penggunaan cahaya secara dramatis, kaya akan ornamen, langit-langit yang dipenuhi fresco (wall painting) dalam skala besar, facade eksternal yang memiliki karakter proyeksi terpusat yang dramatis, interior seringkali tidak lebih dari tempat bagi lukisan dan patung ukiran. Arsitektur Baroque tergolong mewah karena karakteristik-karakteristik yang telah disebutkan tadi. Tidak sedikit uang yang dibutuhkan untuk membuat suatu bangunan bergaya arsitektur Baroque. Namun perlu diingat bahwa pada zaman ini kolonialisme Eropa mulai bangkit. Kolonialisme membuat Eropa menjadi kaya dengan mengambil barang-barang dari negara yang mereka taklukan di belahan dunia luar Eropa. Oleh karena itu, isu keterbatasan finansial dalam membuat bangunan dengan style Baroque tidak terlalu relevan bagi orang zaman Baroque.
Kiri : San Benedetto, Catania. Kanan : Doorway of the Jesuit college, Heiligenstadt


Kiri : Les Invalides, Paris. Kanan : Sant’Ivo alla Sapienza.

Style Baroque pada lukisan terlihat dari karakteristik yang lebih dramatis, memiliki warna yang lebih kaya dan dalam, pencahayaan yang lebih intens dan bayangan yang lebih gelap dibandingkan lukisan Renaissance. Dramatisasi ini terlihat juga dalam karya patung ukiran. Patung ukiran Baroque memilih titik yang paling dramatis, momen ketika even itu terjadi. Contoh : Michaelangelo (seniman Renaissance) membuat patung Daud sebelum bertempur dengan Goliat yang digambarkan sedang berdiri memancarkan kegagahan seorang pria (gambar kiri). Berbeda halnya dengan patung Daud oleh Bernini (seniman Baroque) yang melukis momen ketika Daud sedang menarik ketapelnya sekuat tenaga untuk melemparkan batu menuju kepala Goliat (gambar kanan). Emosi dan passion lebih dimunculkan pada zaman Baroque, bandingkan dengan ketenangan rasional yang diagungkan di zaman Renaissance.

Prinsip estetika yang serupa dengan arsitektur, lukisan, dan patung ukiran Baroque juga terlihat dalam Musik Baroque. Seperti halnya arsitektur Baroque, musik Baroque juga penuh dengan ornamentasi, memiliki kompleksitas yang tinggi dan detail. Ornamen-ornamen seperti : Appoggiatura, Acciaccatura, Mordents, Trills, dan Turns mewarnai musik Baroque.

Teknik polyphony dan counterpoint yang digunakan di zaman Renaissance tetap digunakan di zaman Baroque, namun dikembangkan lebih lanjut. Pada zaman Renaissance, harmoni adalah hasil dari konsonan sesaat yang menuju pada aliran polyphony. Namun pada zaman Baroque, harmoni menjadi suatu hal yang penting, tidak hanya sesuatu yang bersifat insidental seperti di zaman Renaissance. Harmoni mucul sebagai chord yang merupakan suatu bentuk kumpulan beberapa nada yang dimainkan secara bersamaan dan memiliki fungsi yang penting di dalam sebuah komposisi.
Ritme dalam musik Baroque terdengar lebih jelas dibandingkan dengan ritme dalam musik Renaissance. Pendengar musik Baroque dapat dengan mudah mengikuti ketukan musik Baroque.
Beberapa bentuk dan style musik berkembang di zaman Baroque seperti Suite (Allemande, Courante, Sarabande, Gigue, Gavotte, Minuet, Air, dll…), trio sonata, concerto grosso, cantata, dll…
Seperti lukisan dan patung ukiran Baroque, musik Baroque terdengar lebih “colorful” dan “ekspresif” dibandingkan dengan musik Renaissance. Apa yang penyebabnya ? Musik Renaissance mementingkan struktur (istilah Jethro : “form over function”) sehingga yang terjadi ialah kata-kata menyesuaikan diri dengan nada lagu tersebut. Sehingga arti, ekspresi dari karya musik Renaissance tidak terlalu jelas. Apakah sang komposer ingin mengekpresikan keagungan, kesedihan, dsb, tidak terlalu jelas terlihat dalam musiknya walaupun musiknya terdengar sangat kaya dan indah. Di zaman Baroque, arti dan ekspresi dari suatu karya musik mulai mendapat peranan penting. Namun bukan berarti yang terjadi adalah bentuk, struktur, komposisi musik diabaikan, melainkan apa yang baik pada zaman Renaissance dikembangkan lagi. Musik disesuaikan dengan kata-kata dan arti dari karya yang dibuat. Jadi pada zaman ini yang terjadi bukanlah “function over form”, tetapi “function in form and form in function”. Arti dan ekspresi sebuah karya musik memang penting, tetapi bentuk, komposisi, dan struktur musik itu sendiri juga penting. Kata-kata di dalam musik, dan musik di dalam kata-kata. Satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan diantara function dan form.
Musik Baroque lebih memiliki artikulasi dibandingkan dinamika. Namun bukan berarti musik Baroque tidak memiliki dinamika sama sekali. Musik Baroque memiliki dinamika, dan dinamika merupakan suatu hal yang penting dalam komposisi musik Baroque, namun alat musik keyboard yang berkembang pada zaman Baroque, yakni harpischord dan organ, tidak mampu untuk menghasilkan rentang dinamika suara yang lebar. Walaupun dinamika musik Baroque tidak lebar, bukan berarti musik Baroque tidak memiliki efek dramatis. Energi dramatis tetap terasa dari awal hingga akhir sebuah komposisi Baroque, namun berada pada level yang cukup konstan. Sekali lagi, artikulasi melebihi dinamika dalam musik Baroque.
Let’s take some examples of Baroque music… Cuplikan partitur di bawah adalah lagu “All We Like Sheep, Have Gone Astray” dari Messiah karya George Frideric Handel, salah satu komposer musik besar pada zaman Baroque yang berasal dari Inggris.


Perhatikan bahwa birama yang digunakan adalah 4/4. Dalam birama 4/4, ada suatu ordo natural yang disebut strong-beat dan weak-beat. Dalam 4 ketuk tersebut, yang terasa kuat ialah ketukan 1 dan 3, sedangkan ketukan 2 dan 4 lebuh lemah. Hal yang sama juga terdapat dalam speech, dalam suatu kata ada suku kata yang kuat, ada yang lemah. Misalnya dalam bahasa Inggris, kalau kata “Excellent” diucapkan, suku kata “ex” lebih kuat daripada suku kata “cellent”. Musik Baroque dalam menentukan ritme dan penempatan teks sangat memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Dalam contoh di atas terdapat teks “All we like Sheep, have gone astray. We have turned ev’ryone to his own way”. Kalau teks ini diucapkan, maka akan berbunyi seperti ini (huruf besar melambangkan suku kata yang diucapkan kuat dan huruf kecil melambangkan suku kata yang diucapkan lemah):
all WE like SHEEP, have GONE astray. we have TURNed ev’ry ONE to his own WAY
Lihat penempatan teks dalam lagu tersebut. Suku kata yang kuat terletak di ketukan 1 atau 3 yang merupakan strong-beat, dan suku kata yang lemah terletak di ketukan 2 atau 4 yang merupakan weak-beat.
Dari segi melodi, arti dari kata-kata digambarkan dengan sangat baik oleh Handel melalui musiknya. Kata-kata “All we like sheep” dinyanyikan secara serentak oleh keempat section (sopran, alto, tenor, bass) yang bersama ingin menyatakan bahwa kita semua seperti domba. Kemudian diikuti dengan frase “Have gone astray”. Pada kata “astray” sebagai bagian dari frase “gone astray”, terlihat bahwa nada sopran bergerak naik sedangkan nada tenor bergerak turun. Kata “gone astray” yang berarti tersesat digambarkan oleh terpecahnya nada yang dinyanyikan oleh sopran dan tenor kemudian alto dan bass. Satu bergerak naik, sedangkan satu bergerak turun, keduanya tidak bergerak ke arah yang sama. Kemudian pada frasa “we have turned everyone to his own way” sopran, alto, tenor dan bass tidak bernyanyi secara bersamaan melainkan sendiri-sendiri secara bersahut-sahutan, menggambarkan “everyone to his own way”, tiap-tiap orang megambil jalannya sendiri-sendiri. Ketika tiap suara menyanyikan kata “turned”, Handel menggunakan not dengan durasi yang pendek (1/32) dan nadanya naik turun untuk menggambarkan perputaran, pengubahan arah yang terus menerus. Style lagu ini begitu lincah dan riang (lihat accompaignment nya), seperti sedang menggambarkan domba-domba yang lincah berlari kesana kemari. Melalui musik, Handel berusaha menyampaikan message bahwa kita semua seperti domba yang dengan lincah bergerak terpencar satu dengan yang lain, bergerak sendiri-sendiri ke sana kemari sesuka hati, sehingga tersesat. Kata-kata dan musiknya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Let’s take another example. “Fecit Potentiam” dari Magnificat in D Major karya Johann Sebastian Bach, salah satu komposer Baroque terbesar yang berasal dari Jerman. 


Musik yang digunakan Bach untuk mendeskripsikan frase “Dispersit superbos” (bahasa latin, terjemahan bahasa Inggris : scatter the proud) sangat cocok dengan arti frasa tersebut. Pada kata “dispersit” (scatter), nada yang dinyanyikan sopran-alto-tenor-bass turun, tapi pada interval yang jauh, bersahut-sahutan secara acak, menggambarkan kondisi jatuh hancur berkeping-keping. Kemudian suara sopran-alto-tenor-bass kembali menyatu pada kata “superbos” (the proud), namun interval nada tiba-tiba melompat tinggi, dan chord yang digunakan adalah chord yang terkesan “remote” , yakni E#dim, nggak nyambung dengan chord sesaat sebelumnya, A mayor, dan nggak nyambung juga dengan tangga nada D mayor yang digunakan di lagu ini. Dalam tangga nada D mayor, chord yang terdengar masih dekat dan nyambung itu adalah D mayor, A mayor, G major, B minor, E minor, dan F#m. Chord E#dim benar-benar terkesan remote, selain karena root yang digunakan E# , intervalnya diminished lagi, benar-benar “remote”. Akibatnya kata “superboss” (the proud) ini terdengar kasar, tajam (scathing) dan terkesan jauh (remote).
Musik boleh dikatakan mencapai puncak intelektualitas pada zaman Baroque ini. Seperti telah kita lihat bersama sebelumya, bahwa musik Baroque sangat detail, kaya akan ornamen, kompleks, dan menekankan artikulasi. Para komposer musik Baroque, seperti Handel dan Bach, benar-benar menentukan melodi, harmoni, dan ritme dari afeksi teks yang hendak mereka ekspresikan sehingga walaupun musiknya bisa dibilang bernilai tinggi, namun artinya lebih mudah dimengerti dibandingkan musik Renaissance karena musik Baroque yang digubah menggambarkan afeksi dari teks. Bandingkan dengan musik Renaissance yang hanya memperhatikan keindahan struktur dari musiknya tanpa memperhatikan afeksi dari teks. Akan tetapi rentang dinamika musik Baroque belum terlalu lebar, sehingga bisa dikatakan efek dramatis melalui dinamika masih kurang.
Salah satu value yang bisa disimpulkan dari musik Barouque adalah transenden sekaligus inkarnasional. Musik Baroque bernilai tinggi, namun pesan yang ingin disampaikan komposer tidak sulit untuk dipahami. Meaning yang hendak disampaikan bisa dimengerti dengan mudah, namun tidak berarti musik Baroque bernilai rendah. Dua atribut yang paradoks ini melekat pada musik Baroque. Value lainnya ialah satu kesatuan utuh antara teks dan musik. Tidak ada yang lebih dominan. Teks membentuk musik, dan musik menerangkan teks. Ada 2 hal yang berbeda, namun tidak saling berbenturan satu dengan yang lain, tidak ada yang dominan diantara keduanya. Keduanya bersinergi, membentuk kesatuan harmoni yang sangat indah.
Sumber :
1. Wikipedia (www.wikipedia.org)
2. Artikel “Musik dan Perkembangannya” by Jethro R
3. A Music Course for Students (Geoffrey Winters with D.E.Parry Williams), Oxford Univesity Press