“Aku tanya, apakah kau siap?” tanya sang singa.
“Ya, jawab diggory. Dia sempat punya ide gila untuk menjawab, “Aku akan berusaha membantumu, kalau kau berjanji mau menolong ibuku”, tapi dia sadar tepat pada waktunya bahwa sang singa bukanlah sejenis makhluk yang bisa kau ajak tawar menawar…. Tenggorokannya pun terasa tersumbat dan air mata mengalir deras saat dia merepet :
“Tapi aku mohon.. aku mohon..maukah kau.. bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa menyembuhkan ibuku?”. Hingga saat itu dia terus menatap kaki besar sang singa dan cakar-cakar raksasa yang ada di sana, tapi kini, dalam keputusasaan, dia menatap wajahnya.
…………..
“……………..Petik sebuah apel dari pohon itu dan bawalah kepadaku”, kata sang singa.
……………………………..
“Tidakkah kaulihat, bodoh, bahwa satu gigitan apel itu saja bakal bisa menyembuhkan ibumu ? Kau telah memilikinya di sakumu. Hanya ada kita di sini dan sang singa jauh di tempat lain……. Semua akan baik-baik lagi. Rumahmu akan bahagia lagi….”, kata sang penyihir.
“Oh” Diggory terperangah seolah dia telah dilukai, dan meletakkan tangan di kepala. Karena dia tahu kini pilihan paling buruk ada di hadapannya.
“Apa yang telah dilakukan sang singa untukmu sehingga kau rela menjadi budaknya ?” tanya sang penyihir. “Apa yang bisa dilakukannya padamu setelah kau kembali ke duniamu sendiri ? Dan apa yang ibumu pikir kalau saja dia tahu kau bisa saja menghilangkan rasa sakitnya, mengembalikan hidupnya, dan menyelamatkan hati ayahmu dari rasa sedih, tapi kau tidak melakukan itu, bahwa kau lebih memilih memenuhi permintaan seekor binatang liar di dunia asing yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu?”…… “Lihatlah apa yang sudah dilakukannya kepadamu, lihatlah betapa dia membuatmu tidak berhati. Itulah ulahnya kepada semua orang yang mendengarkannya. Kau menjadi anak lelaki yang kejam dan tidak berbelas kasih! Kau lebih memilih membiarkan ibumu sendiri mati daripada….“
“Oh, diamlah”, kata Diggory kesal , maih dengan suara yang sama, “Kau pikir aku tidak menyadari itu? Tapi aku.. aku sudah berjanji”
…………..
“ Tunggu dulu, sebenarnya apa pedulimu dengan semua ini ? kenapa mendadak kau begitu memperhatikan ibuku ? Apa untungnya buatmu ? Apa permainanmu ?”
…………..
“Pergilah kalau begitu, dasar bodoh”, teriak sang penyihir.
…………………………..
Diggory berjalan menghampiri Aslan, menyerahkan apel di sakunya kepada singa itu, lalu berkata : “Aku membawakanmu apel yang kau minta, Sir”
“Bagus sekali” Kata Aslan dengan suara yang menggetarkan bumi.
………………………
“Ya, Aslan. Dia membujukku membawa pulang apel untuk ibuku”
“Mengertilah kalau begitu, apel itu memang akan menyembuhkannya, tapi bukan demi kebahagiaanmu atau kebahagiaannya. Akan datang suatu hari ketika kalian berdua bakal melihat ke belakang dan berkata dia lebih baik mati karena penyakit itu. “
Dan Diggory tidak bisa mengatakan apapun karena air mata telah membuatnya tersedak dan dia telah melepaskan semua harapan menyelamatkan nyawa ibunya.
(“The Magician’s Nephew” from The Chronicles of Narnia by C.S.Lewis)
First, I started asking what I really want. furthermore, it is absolutely good, in my point of view, when my wish is not only just for myself but also for others’ goodness. Then, in the name for others’ goodness, I asked my wish in more intense , until I made a bargain and an appointment. A bargain that is only I agree with it, with no confirmation from the other side. An appointment, that I am the only one its ruler maker.
Unfortunately, NO answer……. But It’s OK, I am a good man, so I was still doing my assignment & responsibility even though my desire had not been fulfilled yet. Not only just doing the assignment, but I did the best. I was struggling very hard to pass the difficult path. Then I win! I had done my assignment very well.
Then, I re-started asking the same wish.. Hey, c’mon.. I had done this. Based on our agreement, I should’ve got my remuneration. But, do you know what I heard?
“Good work, son. You’ve done your job well. But it is My right to determine that your wish will be fulfilled or not. It’s not your business“
WHAT THE ……????? !!!!! HEY !!! I’ve done this for You ! I worked so hard for it and did my best to achieve Your target. Yeah.. I should’ve known before that I should not obey You, that I should not do Your assignment, coz I got NOTHING afterwards. NOTHING but just a statement that very very bad.. After what I had done ?????? It’s absolutely not fair at all !!!!
But wait a minute.. THINK !!! Answer these questions first before you continue your brutal action…
Do you really think that you gave such a very big contribution to His work,
or
you were given a special opportunity (that actually you’re not deserved to get) to be a part of it ?
Do you think that you have a right to get your wish fulfilled,
or
He that has a right to receive your work?
Do you think you know that your wish is really what you need,
or
you have another very important need that you do not know?
Do you think your wish fulfillment is a return of your works,
or
a gift, a bonus ?
Hmmm… Hey the story has not finished yet.. So, let me finish the story first….
Namun di saat yang sama dia tahu sang singa tahu apa yang bakal terjadi, dan bahwa mungkin ada hal-hal yang lebih buruk bahkan daripada kehilangan seseorang yang kaucintai karena dijemput kematian. Tapi kini Aslan berkata lagi, hampir dengan bisikan :
“Itulah yang akan terjadi, nak dengan apel curian. Bukan itu yang aan terjadi sekarang. Yang akan kuberikan kepadamu sekarang akan membawa kebahagiaan. Apel ini tidak akan membawa kehidupan abadi ke duniamu tapi akan menyembuhkan. Pergilah petikkan ibumu sebuah apel dari pohon ini. “
Selama beberapa saat Diggory nyaris tidak bisa mengerti. Seolah seluruh dunia telah jungkir balik dan tercampur baur. Kemudian seperti seseorang dalam mimpi, dia berjalan menghampiri pohon itu……. Dia memetik apel dan memsukkannya ke saku. Kemudian dia kembali ke Aslan.
So.. Clear ??? The last answer is : It’s a Gift !! It’s a bonus !!! Not because the story is end like this. Even though the story is not a “happy ending” story, the last answer is still the same : It’s a Gift !! It’s a bonus !!!

Di bidang visual art, manusia digambar sesuai dengan proporsi aslinya, cara menggambar perspektif, teknik pencahayaan dan bayangan dalam lukisan mulai berkembang. Leonardo da Vinci dan Michelangelo bisa dikatakan sebagai icon di zaman ini. Like all of you know that da Vinci is not only an artist, but also a scientist. Untuk menghasilkan lukisan manusia yang sempurna, ia menyelidiki proporsi geometri tubuh manusia yang menjadi karya Vitruvian Man yang sangat terkenal itu.








Sebagian manusia, khususnya yang disayangi-Nya, telah mengalami lembang gelombang yang lebih lama dan lebih dalam daripada orang lainnya. Alasannya demikian. Seorang manusia bagi kita hanyalah makanan belaka; tujuan kita adalah menyerap kehendaknya menjadi kehendak kita, bertambah
When you listen “classical music” terminology,