Posted by: adhiwin | April 26, 2008

A Return, or A Gift ?

“Aku tanya, apakah kau siap?” tanya sang singa.

“Ya, jawab diggory. Dia sempat punya ide gila untuk menjawab, “Aku akan berusaha membantumu, kalau kau berjanji mau menolong ibuku”, tapi dia sadar tepat pada waktunya bahwa sang singa bukanlah sejenis makhluk yang bisa kau ajak tawar menawar…. Tenggorokannya pun terasa tersumbat dan air mata mengalir deras saat dia merepet :

“Tapi aku mohon.. aku mohon..maukah kau.. bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa menyembuhkan ibuku?”. Hingga saat itu dia terus menatap kaki besar sang singa dan cakar-cakar raksasa yang ada di sana, tapi kini, dalam keputusasaan, dia menatap wajahnya.

…………..

“……………..Petik sebuah apel  dari pohon itu dan bawalah kepadaku”, kata sang singa.

……………………………..

“Tidakkah kaulihat, bodoh, bahwa satu gigitan apel itu saja bakal bisa menyembuhkan ibumu ? Kau telah memilikinya di sakumu. Hanya ada kita di sini dan sang singa jauh di tempat lain……. Semua  akan baik-baik lagi. Rumahmu akan bahagia lagi….”, kata sang penyihir.

“Oh” Diggory terperangah seolah dia telah dilukai, dan meletakkan tangan di kepala. Karena dia tahu kini pilihan paling buruk ada di hadapannya.

“Apa yang telah dilakukan sang singa untukmu sehingga kau rela menjadi budaknya ?” tanya sang penyihir. “Apa yang bisa dilakukannya padamu setelah kau kembali ke duniamu sendiri ? Dan apa yang ibumu pikir kalau saja dia tahu kau bisa saja menghilangkan rasa sakitnya, mengembalikan hidupnya, dan menyelamatkan hati ayahmu dari rasa sedih, tapi kau tidak melakukan itu, bahwa kau lebih memilih memenuhi permintaan seekor binatang liar di dunia asing yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu?”…… “Lihatlah apa yang sudah dilakukannya kepadamu, lihatlah betapa dia membuatmu tidak berhati. Itulah ulahnya kepada semua orang yang mendengarkannya. Kau menjadi anak lelaki yang kejam dan tidak berbelas kasih! Kau lebih memilih membiarkan ibumu sendiri mati daripada….“

“Oh, diamlah”, kata Diggory kesal , maih dengan suara yang sama, “Kau pikir aku tidak menyadari itu? Tapi aku.. aku sudah berjanji”

…………..

“ Tunggu dulu, sebenarnya apa pedulimu dengan semua ini ? kenapa mendadak kau begitu memperhatikan ibuku ? Apa untungnya buatmu ? Apa permainanmu ?”

…………..

“Pergilah kalau begitu, dasar bodoh”, teriak sang penyihir.

…………………………..

Diggory berjalan menghampiri Aslan, menyerahkan apel di sakunya kepada singa itu, lalu berkata : “Aku membawakanmu apel yang kau minta, Sir”

“Bagus sekali” Kata Aslan dengan suara yang menggetarkan bumi.       

………………………

“Ya, Aslan. Dia membujukku membawa pulang apel untuk ibuku”

“Mengertilah kalau begitu, apel itu memang akan menyembuhkannya, tapi bukan demi kebahagiaanmu atau kebahagiaannya. Akan datang suatu hari ketika kalian berdua  bakal melihat ke belakang dan berkata dia lebih baik mati karena penyakit itu. “

Dan Diggory tidak bisa mengatakan apapun karena air mata telah membuatnya tersedak dan dia telah melepaskan semua harapan menyelamatkan nyawa ibunya.

(“The Magician’s Nephew” from The Chronicles of Narnia by C.S.Lewis)

 

First, I started asking what I really want.  furthermore, it is absolutely good, in my point of view, when my wish is not only just for myself but also for others’ goodness. Then, in the name for others’ goodness, I asked my wish in more intense      , until I made a bargain and an appointment.  A bargain that is only I agree with it, with no confirmation from the other side.  An appointment, that I am the only one its ruler maker.

Unfortunately, NO answer…….  But It’s OK, I am a good man, so I was still doing my assignment & responsibility even though my desire had not been fulfilled yet. Not only just doing the assignment, but I did the best. I was struggling very hard to pass the difficult path. Then I win! I had done my assignment very well.

Then, I re-started asking the same wish.. Hey, c’mon.. I had done this. Based on our agreement, I should’ve got my remuneration. But, do you know what I heard?

“Good work, son. You’ve done your job well. But it is My right to determine that your wish will be fulfilled or not. It’s not your business“

WHAT THE ……????? !!!!!  HEY !!! I’ve done this for You ! I worked so hard for it and did my best to achieve Your target. Yeah.. I should’ve known before that I should not obey You, that I should not do Your assignment, coz I got NOTHING afterwards. NOTHING but just a statement that very very bad.. After what I had done ?????? It’s absolutely not fair at all !!!!

But wait a minute.. THINK !!! Answer these questions first before you continue your brutal action…

 

Do you really think that you gave such a very big contribution to His work,

or

you were given a special opportunity (that actually you’re not deserved to get) to be a part of it ?

 

Do you think that you have a right to get your wish fulfilled,

or

He that has a right to receive your work?

 

Do you think you know that your wish is really what you need,

or

you have another very important need that you do not know?

 

Do you think your wish fulfillment is a return of your works,

 or

a gift, a bonus ?

 

Hmmm… Hey the story has not finished yet.. So, let me finish the story first….

Namun di saat yang sama dia tahu sang singa tahu apa yang bakal terjadi, dan bahwa mungkin ada hal-hal yang lebih buruk bahkan daripada kehilangan seseorang yang kaucintai karena dijemput kematian. Tapi kini Aslan berkata lagi, hampir dengan bisikan :

“Itulah yang akan terjadi, nak dengan apel curian. Bukan itu yang aan terjadi sekarang. Yang akan kuberikan kepadamu sekarang akan membawa kebahagiaan. Apel ini tidak akan membawa kehidupan abadi ke duniamu tapi akan menyembuhkan. Pergilah petikkan ibumu sebuah apel dari pohon ini. “

Selama beberapa saat Diggory nyaris tidak bisa mengerti. Seolah seluruh dunia telah jungkir balik dan tercampur baur. Kemudian seperti seseorang dalam mimpi, dia berjalan menghampiri pohon itu……. Dia memetik apel dan memsukkannya ke saku. Kemudian dia kembali ke Aslan.

So.. Clear ??? The last answer is : It’s a Gift !! It’s a bonus !!! Not because the story is end like this. Even though the story is not a “happy ending” story,  the last answer is still the same : It’s a Gift !! It’s a bonus !!!

Posted by: adhiwin | April 20, 2008

From Renaissance to Romantic (Part One)

As I told you before, I really love “classical music”. I would like to share the development stage of this music from Renaissance to Romantic. Although music had been known far behind this Renaissance age (Medieval age backwards), I will only choose Renaissance, Baroque, Classical, and Romantic. In my opinion, it is enough to represent European music development stage.

Let’s start with Renaissance Music !!!!

School of Athens by Raphael Sanzio

“School of Athens” karya Raphael Sanzio

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang Renaissance Music, let’s see perkembangan budaya pada zaman Renaissance (sekitar tahun 1400 – 1600). Istilah Renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti lahir kembali (rebirth) (re – kembali, dan nascere-dilahirkan). Mengapa disebut lahir kembali ? Karena pada zaman tersebut banyak orang yang mulai mempelajari kembali warisan pengetahuan dan kebudayaan kuno yang dimiliki nenek moyang mereka, yakni Yunani dan Romawi. Semangat zaman ini sangat berbeda dengan semangat zaman Medieval Age sebelumnya yang sangat menekankan spiritualitas yang tansenden.

Ciri khas karakteristik zaman renaissance adalah semangat humanisme. Humanisme bukan dalam arti filosofi humanisme, melainkan metoda belajar.. Para humanis mempelajari kembali pengetahuan dan budaya kuno dan mengkritisinya dengan argumen logis dan bukti, bukan hanya sekadar mebahas isi tulisan A bertentangan dengan tulisan B, seperti yang dilakukan di zaman Medeival sebelumnya. “The genius of man… the unique and extraordinary ability of human mind”… Mengembalikan manusia ke nilai semula yang memiliki dignity, itulah semangat zaman Renaissance.

Semangat ini begitu terasa di semua lini kebudayaan dan pengetahuan.

 

Vitruvian Man by Leonardo da VinciDi bidang visual art, manusia digambar sesuai dengan proporsi aslinya, cara menggambar perspektif, teknik pencahayaan dan bayangan dalam lukisan mulai berkembang. Leonardo da Vinci dan Michelangelo bisa dikatakan sebagai icon di zaman ini. Like all of you know that da Vinci is not only an artist, but also a scientist. Untuk menghasilkan lukisan manusia yang sempurna, ia menyelidiki proporsi geometri tubuh manusia yang menjadi karya Vitruvian Man yang sangat terkenal itu.

Di bidang arsitektur, para arsitek menggunakan kembali bentuk arsitektur Grika (Yunani kuno) dan Romawi. Salah satu contohnya ialah bangunan “Tempietto di San Pietro” di Montorio yang meniru style arsitektur “Temple of Vesta” di Roma yang dibangun pada tahun 250 M.

(Kiri : “Temple of Vesta”; Kanan : “Tempietto di San Pietro”)

 

 

 

 

 

 

Style arsitektur zaman ini menekankan simetri, proporsi, geometri, dan keteraturan dari tiap bagian seperti arsitektur Grika & Romawi. Keteraturan kolom dan pilar, serta penggunaan kubah dan lengkungan setengah lingkaran adalah ciri khas arsitektur zaman ini, mengganti style yang kompleks dan profil yang tidak teratur di zaman Medieval sebelumnya (salah satu contoh style zaman Medeival adalah Gothic). Salah satu icon bangunan yang sangat terkenal mewakili zaman ini adalah St. Peter’s Basilica.

(Kiri : St. Peter’s Basilica; Kanan : Salah satu contoh gaya arsitektur Gothic)

St.Peter Basilica

 

 

 

 

 

Musik Renaissance sangat terkait erat dengan karakteristik era Renaissance ini. Seperti halnya arsitektur dan visual art, musik Renaissance mementingkan bentuk, proporsi, dan keteraturan.

Seperti pada bidang lainnya, orang zaman ini mulai mempelajari kembali musik yang telah ditemukan oleh orang Yunani kuno. Salah satunya ialah temuan pythagoras (Ahli Matematika Yunani Kuno) mengenai interval dan perbandingan frekuensi. Pythagoras menemukan bahwa sebuah nada yang dihasilkan dari sebuah senar dalam dua bagian yang memiliki perbandingan sederhana, seperti 2:1, 3:2, atau 4:3 bersuara harmonis. Ketiga perbandingan tersebut didefinisikan sebagai perfect interval dalam musik (oktaf – do ke do tinggi, fifth – do ke sol, dan fourth – do ke fa). Ketiga interval ini disebut memiliki konsonan tertinggi (terdengar paling harmonis) – nada yang tidak terdengar harmonis disebut disonan, seperti second : do ke re, seventh : do ke si – . Galileo, seorang scientist yang hidup pada zaman Renaissance, mengatakan hal ini : ”Agreeable consonances are pairs of tones which strike the ear with a certain regularity; this regularity consists in the fact that the pulse delivered by the two tones, in the same time, shall be commensurable in number, so as not to keep the eardrum in perpetual torment, bending in two different directions in order to yield to the ever-discordant impulses. “

Musik Renaissance yang mementingkan proporsi memberikan pernanan penting pada perfect interval yang sangat konsonan, terutama oktaf dan fifth terkait dengan alasan memiliki perbandingan frekuensi yang sederhana. Giovanni Pierluigi da Palestrina, seorang komposer dari Italia yang sangat terkenal pada zaman Renaissance membatasi musiknya pada salah satu syarat yang dia kembangkan sendiri : ”Dissonances are either passing note or off the beat. If it’s on the beat, it is immediately resolved”.

Tekstur musik Renaissance adalah Polyphony (bentuk komposisi musik yang terdiri dari 2 melodi atau lebih yang independen satu dengan yang lain). Hubungan antara melodi yang satu dengan yang lain menggunakan bentuk Counterpoint (Chord yang bergerak secara bersamaan menghasilkan suara simultan yang saling berpautan), yang independen dalam ritme dan kontur, tetapi dependen dalam harmoni. Waduh ngomong apaan nih ???? It may difficult to imagine this, so to make easier to be understood, let’s learn from example below.

Musik yang sering kita dengar biasanya terdiri dari melodi dan iringannya (harmoni). Seperti seorang penyanyi solo bernyanyi diiringi piano, penyanyi solo berfungsi sebagai melodi dan piano berfungsi sebagai iringan (harmoni). Penyanyi (Melodi) lebih dominan dari piano (iringan) karena ia adalah aktor utama saat itu. Tapi bentuk polyphony tidak seperti ini. Tidak ada satu bagian yang lebih dominan dari bagian lainnya. Semuanya adalah melodi, tidak ada yang berfungsi sebagai iringan. Semua bagian penting, tidak ada yang besifat sebagai secondary layer. Satu contoh paling sederhana mengenai bentuk ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh dua orang yang secara kanon (keduanya menyanyikan nada yang sama, namun pada waktu yang berbeda, yang satu baru mulai menyanyikan lagu yang sama di pertengahan lagu yang dibawakan orang pertama, namun secera ritmik tetap terdengar harmonis dan teratur secara ritmik, tidak kacau).

Bentuk musik yang seperti itulah yang ada di zaman Renaissance ini. Biasanya didahului oleh suatu melodi tema, yang disebut cantus firmus, kemudian diikuti oleh melodi lainnya yang memiliki tema bentuk yang sama tetapi mungkin nada yang berbeda. Flow musik Renaissance terdengar sangat dinamis (dynamic flowing), tidak kaku dan statis.

Let’s see 2 contoh komposisi Musik Renaissance di bawah :

“Kyrie” from “Missa Assumpta est Maria” – Giovanni Pierluigi da Palestrina

“Haec Dies” – William Byrd

Kedua kompossi tersebut didahului oleh satu melodi tema (tenor untuk lagu “Kyrie”; sopran untuk lagu “Haec Dies”) kemudian diikuti oleh melodi lainnya dengan bentuk tema yang identik. Melodi yang mengikuti melodi tema awal tidak sama persis melainkan melodi ke-5 (fifth) dari tangga nada yang dipergunakan (di lagu “Kyrie”, tenor memulai dengan nada do diikuti Cantus II kemudian Cantus I dengan nada sol; di lagu “Haec Dies”, Superius memulai melodi dengan nada do, diikuti Countertenor dengan nada sol). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, interval fifth merupakan salah satu interval yang memegang peranan penting pada zaman ini karena proporsi frekuensinya. Hal itu diaplikasikan di kedua contoh komposisi Renaisssance ini. Kemudian melodi-melodi lain dengan tema yang identik mulai masuk bergantian. Semua part dominan, tidak ada part yang menjadi secondary layer. Semua part melodi, tidak ada yang menjadi iringan. Walaupun semua menjadi melodi, tidak terdengar kacau, melainkan terdengar begitu teratur dan harmonis.

Karakter musik Renaissance sangat mementingkan bentuk, dan tidak terlalu mempedulikan isi, arti, teks, ekspresi dari musik itu sendiri. Meminjam istilah Jethro : ”form over function”. Jika mendengar melodinya saja tanpa melihat kata-katanya, akan sulit untuk menebak apa isi dan ekspresi dari lagu tersebut, apakah berbicara tentang pujian, permintaan, atau kesedihan….

Filosofi yang bisa didapatkan dari musik Renaissance ini adalah ”Unity in Diversity”. Walaupun setiap suara dominan dan memiliki nada yang berbeda, tetapi tetap terdengar teratur dan harmonis. Sama seperti tiap manusia memiliki status yang sama, tapi masing-masing berbeda dan begitu unik. Jika tiap mereka bisa menjalankan peran mereka yang berbeda-beda dengan baik, akan terbentuk suatu sinergi kesatuan harmoni yang sangat indah. Beragam namun tetap teratur. Beragam namun tetap menghasilkan satu sinergi.

Sumber :

  • Wikipedia (www.wikipedia.org)
  • Artikel ”Musik dan Perkembangannya” by Jethro R
  • Buku ”The Science of Sound” by Thomas D. Rossing, Richard F. Moore, & Paul A. Wheeler
Posted by: adhiwin | April 11, 2008

Καιρόσ dan χρόνοσ

Jam menunjukkan pukul empat sore. Langsung kutelpon adikku dari kantor ”Sem, loe ada di mana ?” Terdengar jawaban dari gagang telepon ”Gw masih di Cawang macet banget” Wah.. langsung terlintas dalam benakku.. Pasti telat nih..

Hari itu memang hari yang kutunggu-tunggu dalam seminggu itu. Ada konser ”The Glory of The Violin” dari Mr. Robert Brown. Kesempatan kayak gini langka banget, ditambah aku memang sangat hobi mendengarkan konser “classic”, apalagi yang ada penjelasan mengenai interpretasi musiknya. Suatu kesempatan yang tidak akan kulewatkan.

Lanjut ke cerita awal.. Lalu kutunggu adikku yang akan dating sambil meneruskan pekerjaan yang tersisa hari itu.. Sekitar jam lima, HP ku berdering ”Halo..”, kataku. ”Ko, gw udah di depan nih”, sahut adikku. ”OK gw ke sana”. Aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan keluar.. Eh.. ternyata hujan deras.. Tapi aku tidak menghiraukannya.. Aku berlari menuju mobil.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana membosankannya berada di mobil memandang keluar jendela melihat pemandangan jalan yang sangat padat, macet, rusak, becek lagi.. Yang jelas jalan sangat macet sehingga kami baru tiba di semanggi jam tujuh malam.. Wuih.. Saat itu aku langsung bergumam.. Wah sekarang konser baru mulai.. Udah telat nih.. Dan macet tidak berhenti.. Mobil tetap bergerak merayap.. Rasa kesalku mulai muncul..

Yang tidak kuduga terlintas dalam pikiranku adalah.. Wow.. apakah aku sedang tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal yang aku suka ? Apakah aku tidak diberi waktu untuk menikmati musik yang indah lagi karena aku pun tidak memberikan waktuku untuk hal lain selain kerja dan kerja ? pikirku..

Aku pun mulai berpikir lagi.. Seharusnya kugunakan waktuku untuk banyak hal lain yang sangat berguna.. Tidak melulu buat kerja doank.. No excuse untuk memperbolehkan diriku berkata ”Aku tidak punya waktu untuk itu” Karena walaupun hal lain itu tidak urgen, tapi penting.. Tidak seperti kerjaan yang selalu urgen.. Penting karena aku bisa meng upgrade pengetahuan diriku untuk nantinya dibagikan ke orang lain, penting karena aku bisa mencoba mempebaiki karakterku untuk menjadi anak yang lebih baik, penting karena aku punya waktu untuk berbagi dengan orang lain, penting karena aku bisa terlibat dalam pekerjaan yang membuat orang lain jadi lebih baik..

Seharusnya aku mengalokasikan waktuku juga untuk belajar kebenaran, berdoa bagi orang lain, menikmati musik yang benar dan berusaha menginterpretasikannya untuk di share, belajar bahasa, menanyakan kabar saudara dan teman-temanku, memperhatikan keluarga terdekat dan sahabat-sahabatku, merencanakan masa depanku (finansial, pendidikan lanjutan, pasangan hidup, dll…) agar menjadi anak yang bertanggung jawab menjalankan hidup penuh anugerah yang telah diterima..

Waktu adalah anugerah.. Chronos & Kairos adalah anugerah.. Tapi aku tidak memanfaatkan, menjalankan, dan memberi kesempatan bagi Kairos itu untuk ada dalam waktuku.. Hanya sekadar manjalankan Chronos yang selalu rutin berputar.. Seharusnya, rutinitasku tetap terisi dalam Chronos, tapi aku juga akan mempersilakan Kairos mengisi keseharianku.. Kairos ketika aku bisa melihat diriku semakin baik dalam menjalankan tugasku di dunia ini, ketika aku bisa melihat orang lain menuju kebenaran dan aku diberi kesempatan istimewa turut berbagian di dalam pekerjaan itu, ketika aku mau menyangkal diri, ego, dan keinginanku untuk tunduk pada kehendak-Nya..

Akhirnya, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan ketika aku sampai di gedung konser.. Sudah terlambat satu setengah jam! Kami menunggu 1 lagu selesai dibawakan kemudian mengendap-ngendap duduk, takut mengganggu orang yang sedang nonton. Mr. Robert Brown memberi pengantar singkat mengenai lagu dari Vivaldi yang akan dia bawakan.

Tak terasa dalam waktu 15 menit lagu itu selesai, dan ketika aku melihat lembar acara.. Wah.. ini kan lagu terakhir.. Jadi selesailah konser malam itu.. Hanya mendengar konser 15 menit harus dibayar dengan perjalanan pergi 3 setengah jam ! What a thing !!! Yah.. Sepertinya aku sedang belajar mengenal kembali Kairos & Chronos saat itu.. Thanks for remind me the mystery of time !!

Akhirnya aku pulang bersama si Sem bukan dengan perasaan gondok karena merasa sia-sia, tapi dengan diiringi tawa seolah mentertawakan diri yang bodoh serta mentertawakan bahwa kami hanya duduk 15 menit untuk mendengarkan 1 lagu sementara perjalanannya makan waktu 3 setengah jam…

Posted by: adhiwin | February 18, 2008

Lembang Gelombang

overland05113356014012-wave3.jpgSebagian manusia, khususnya yang disayangi-Nya, telah mengalami lembang gelombang yang lebih lama dan lebih dalam daripada orang lainnya. Alasannya demikian. Seorang manusia bagi kita hanyalah makanan belaka; tujuan kita adalah menyerap kehendaknya menjadi kehendak kita, bertambah luasnya wilayah keegoan kita ini harus terjadi, betapapun harganya. Tetapi kenyataan yang dituntut oleh Sang Musuh dari manusia ternyata sangat berbeda. Orang menghadapi kenyataan bahwa semua perkataan tentang kasih-Nya kepada manusia dsn tentang pelaynan-Nya harus dilakukan dengan kebebasan sempurna, bukanlah sekadar propaganda belaka…….. Sang Musuh menginginkan suatu dunia yang dipenuhi dengan keberadaan, yang dipersatukan dengan diri-Nya, tetapi mereka tetap diri mereka sendiri 

Cuplikan Surat dari Screwtape (Setan penggoda senior) kepada Wormwood (setan penggoda junior) dalam The Screwtape Letters karya C.S. Lewis    

Ketika dirimu diperhadapkan pada suatu masa yang kamu anggap sebagai sebuah titik terendah dalam hidupmu, bagaimana sikapmu ?  

Menurut Screwtape, akan ada 2 kemungkinan kesalahan yang akan dibuat seorang manusia dalam masa seperti ini : Pertama, menjadi pemurung, terlalu terpuruk dalam kesedihan, keputusasaan, mengasihani diri sendiri secara berlebihan. Kedua, menjadi pemimpi yang berusaha melarikan diri dari permasalahan dan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja tanpa berusaha mengatasi problem yang muncul.  

Ketika itu menimpa diriku, guess what ? aku menjadi orang yang pertama..       

Padahal jika kulihat kembali masa itu, sebenarnya tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Hanya karena keegoisanku terjadilah semua itu..   

Sekarang aku jadi tahu bahwa betapa egois dan sombongnya diriku ketika aku memutar kembali ingatanku di masa itu, masa ketika aku menganggap diriku anak yang baik, tidak egois, tulus, melayani orang lain, dan rendah hati. Ternyata saat itu aku sangat berhasil membohongi diriku sendiri hingga diriku sendiri tidak tahu dan bahkan tidak sadar seperti apa aku sebenarnya. Aku terbius oleh buaianku sendiri. Dan ketika ujian itu datang, ujian yang mungkin hanya baru tingkat dasar, kebohongan itu mulai terkuak.  

Aku menjadi seorang pemberontak, pemurung, dan penyendiri. Ya.. selama hampir setahun aku berubah total, bertolak belakang dari diriku yang aku dan teman-temanku kenal..  Tapi tiap sikapku di masa itu menjadi pelajaran bagiku sekarang, ketika aku mulai sadar akan diriku yang sebenarnya.  

Sebagai seorang pemberontak, aku terus menerus bertanya.. Hey c’mon.. I’ve done a lot of things, many things, aku telah berjerih lelah untuk kebaikan orang-orang disekitarku.. Hey where’s my part ? where’s my right ? Masakan aku mendapatkan ini sebagai imbalannya ? Segudang masalah dan kesulitan yang kuanggap sebagai masalah terbesar yang pernah kuhadapi. And hey !! No ones even cares and understand me !!!! Tahu kaya’ gini aku ga akan ngelakuin kebaikan bagi orang lain.. Ga ada gunanya buatku !!!! Stop !! Enough for me to do good things ! 

Aku baru tahu ternyata aku adalah orang yang sangat tidak tulus, mengharapkan imbalan, merasa diri paling berjasa atas kebaikanku. Padahal sikap baikku bukanlah hal luar biasa, itu adalah hal wajar yang menjadi kewajibanku dalam bersikap. Hal yang memang seharusnya kulakukan. K’lo kata Bu Ati, ini seperti layaknya seekor kucing yang sudah memang seharusya dan sewajarnya mengeluaran suara “meong”, no special things.. ga ada pujian yang akan terucap dari siapapun ketika kucing itu mengeluarkan suara “meong”. Isn’t it strange & very funny jika seorang tiba-tiba berkata, “wah hebat ya kucing ini bisa mengeluarkan suara ‘meong’”.. Ouw.. C’mon Awe, it is very normal dan memang sudah sewajarnya dan seharusnya kamu menolong orang dengan sikap yang tulus. Bahkan sebenarnya kamu sedang diberi hak istimewa untuk berbagian dalam perbuatan baik bagi orang itu yang sedang dirancang khusus untuknya. Would you just throw away this opportunity ?  You’re free to choose !!! 

Sebagai seorang pemurung dan penyendiri, aku terlalu mengasihani diriku sendiri secara sangat berlebihan, mengaggap tidak ada yang menyayangiku, selalu iri akan keberhasilan orang lain, tidak rela orang lain senang, selalu menganggap aku ini orang tersusah sedunia, tidak pernah puas, selalu membanding-bandingkan diri, rendah diri, menghindar dari teman-teman dan sahabat-sahabatku, merasa tidak sepatutnya aku mendapatkan ini..  

Wow.. ternyata aku sangat egois.. Semuanya berpusat pada diriku.. Aku bersikap tidak egois hanya karena aku ingin dianggap murah hati. Meminjam istilah Screwtape : Ketidakegoisan yang negatif, yang bisa berujung pada kebencian.. Nampaknya aku berada di ujung ketidakegoisan yang negatif itu..  Just tell the truth ! Say no, if you don’t have will to do it, and say yes, if you  do have will to do it. Geser pusatnya !!! Pusat diri sendiri ? Hati kecilku mengatakan ini salah.. ini salah.. ga seharusnya seperti ini.. Terlalu sempit dan hampa rasanya ketika aku menjadikan dirku sendiri pusat.. Sudah sering kurasakan kehampaan ini dalam masa setahun yang kelabu itu… Karena memang aku telah melenceng dari tujuanku dicipta.. aku tidak melakukan fungsiku sebagai seorang ciptaan.. Sama seperti sebuah obeng yang dipakai untuk memalukan paku ke tembok, obeng tersebut tidak akan berguna dan tujuan paku menancap di tembok tidak akan tercapai.. C’mon Awe, kamu ada di sini, bukan untuk dirimu sendiri, kamu ada di sini untuk membuat penciptamu senang, senang karena tujuan-Nya untuk dirimu tercapai, senang karena kamu mengerti hati-Nya, karena kamu ikut sedih di dalam kesedihan-Nya, karena kamu ikut marah di dalam kemarahan-Nya, karena kamu ikut mengasihi di dalam kasih-Nya, karena kamu sepikir dengan Visi & Misi-Nya, karena kamu menjalankan kehendak-Nya dengan ketulusan hati, ketaatan, dan kerendahan hati, karena kamu menyerahkan secara total dirimu untuk dipakai sebagai “instrument”-Nya.. Would you just let yourself to be the center of your life so that it make yourself as valuable as it has to be ? You’re free to choose!!!! 

GOD, forgive me for every rebellion normal_absolute_68_9036.jpg
and wrong doing that I’ve done, normal_absolute_68_9036.jpgnormal_absolute_68_9036.jpg
Thanks for learning opportunity that YOU have given to me;
even though this problem is purely caused by my fault.
YOU still love me much.
Let me always struggle and work hard to be as I have to be, align with YOUR will.
Friends, forgive me for being selfish,
for not being honest to you,
for hating you,
for pretending in front of you. 

Posted by: adhiwin | September 20, 2007

The Marvelous Sound of Music

When you listen “classical music” terminology,
what’s on your mind?

Let me clarify the terminology for this kind of music first. Actually, this kind of music refers to the European Music from Renaissance (1400s) to Romantic Era (1910s). The  classical terminology itself refers to a particular stage in the development of this European music tradition. Nevertheless, the “classical” terminology has been more popular used to represent European music tradition.

I love several of European music, especially the composition of J.S. Bach, Handel, Haydn, W.A. Mozart, Beethoven, and Mendelssohn with their Oratorio, Cantata, Concerto, and Symphony musical composition. They are amazing and soooo wonderful!!!! Why do I like it?

  1. Colourful Sound
    Oratorio, Cantata, Concerto, and Symphony musical composition are played by many kinds of musical instrument in an orchestra and people voice in solo performance and choir. The sound timbre is soooo rich… It is similar as if you see picture that have rich & beautiful colour combination.. Harmonic colouring & very expressive sound of the strings family (violin, viola, cello, bass), brilliant& heavenly sound of the flute, warm sound of the clarinet, valiant sound of the trumpet, mellow sound of the French horn, majestic sound of the timpani, and above all : the marvelous sound of human in the choir. All together are combined in the beautiful harmonization of the music..

  2. Sounds Natural
    The harmonization, the rythm, the style, the melody are very natural. It always use chord that nice to be heard. Contrast with Jazz that always finish with unfinished chord or use chord with “unharmonized” sound. In addition to the chord, the rythm also is very natural, align with our natural beat.. It emphasis on the 1st beat… Some compositions that are very lively can make my head ”dance”, full of joy.. It differs with rock music that stress on the 2nd or 4th beat. It’s a forced beat, not the natural one…. Or in Jazz, which is full of “syncope” beat, another unnatural beat …  

  3. Descriptive
    I can feel and see something that the composers would like to describe in its music by hearing the composition because of the compositions of the music itself, not because I’m good at interpret the music.. I can see how chaotic, dark, and mysterious the world is before the creation in Haydn’s Die Schopfung Overture; I can feel the warm and bright of the sunrise beam dropped on my body when tenor & orchestra play ”In vollem Glanze steiget jetzt die Sonne” (In splendour bright is rising now/the sun) in Haydyn’s Die Schopfung ; My eyes can see how high and magnificent the sky is when the strings sounds very lively and high at the end of “Die Himmel erzählen die Ehre Gottes” (The heavens are telling the glory of God) in Haydn’s Die Schopfung ; My soul can scream asking for a help together with chorus when they sing “Hilf, Herr!” (Help, Lord) (Mendelssohn’s Elijah) in fortississimo dynamics; I can feel how the people laugh to scorn the Messiah when the choir sing “HE trusted in God that HE would deliver HIM, Let HIM deliver HIM, if HE delight in HIM” in Handel’s Messiah. Soooooo wonderful the description is..

  4. Precise & Neat
    The precision & neatness of their works can be seen in their beat. Bach, Haydn, Handel, and other Baroque & classical composers put the running notes in some of their composition, usually in canonical (fugue) style. The “fugue” between one part and others is very very neat, very nice to be heard. The precision of their works can also be seen when they give the soul to the composition by using the particular key. They precisely follow the key’s soul.. D major as the key of glory; G major as the key of benediction; E flat major as the key of heroic; A major as the key of Innocent Love; A minor as the key of sadness; F minor as the key of passion; etc… Let us take an example.. They use D major as the key of glory.. Why? Because of the sound itself reflect glorious thing.. Try it by yourself: Play D major chord in magnificent style.. Also Play E major chord in the same magnificent style.. You will hear the difference.. Which sounds is align with the expression of glory? You’ll find the answer while you hear it!!! The trumpet open sound is D major, that’s why trumpet is very good in reflecting glorious expression..

  5. Deep meaning
    The composition has deep meaning and many messages that the composers would like to deliver to the listeners. In Bach’s Matthaus Passion, you can get a reflection how big is Jesus’ Passion, and the message what we have to do to respond HIS everlasting AGAPE love.. In one part of Mendelssohn’s Elijah, you can receive strength to continue your life although facing many problems when you hear the choir sings “Hebe deine Augen auf zu den Bergen, von welchen dir Hilfe kommt”(Lift Thine eyes to the mountains, whence cometh help)

That’s 5 reasons why I can say how marvelous the sound of the music are, when I’m listening this music.. Hope you can enjoy it also..

« Newer Posts - Older Posts »

Categories