Terinspirasi dari obrolan ngalor ngidul dengan David dan TriChan beberapa waktu lalu di Depok, artikel ini ditulis. Mulai dari gosip ter-gress, kerjaan, kenangan kuliah, politik, sampai “scientific masturbation” jadi bahan obrolan dari siang hingga malam menyambut tahun baru imlek..😀

Nah.. Artikel ini sebagian part dari “scientific masturbation” yang dibicarakan. Bermula dari omongan David yang menceritakan isi buku karangan Malcolm Gladwell yang bejudul “Outliers”, bahwa orang sukses sebagian besar merupakan buah dari kepandaian orang tersebut dalam melihat dan mengambil kesempatan yang ada, bukan hanya dari IQ semata. Gladwell mengambil contoh perbandingan 2 orang jenius, yakni Christoper Langan, yang memiliki IQ 195, hanya dikenal sebagai orang dengan IQ tertinggi se-Amerika, sementara J. Robert Oppenheimer dalam dekade yang hampir sama merupakan scientific director Manhattan Project (Proyek Senjata Nuklir AS di Perang Dunia II), dan dikenang sebagai Bapak Bom Atom. Dia juga memegang jabatan Senior Professor of Theoritical Pysics di Institue of Advanced Study, Princeton, yang sebelumnya dijabat oleh Albert Einstein. Saat David menceritakan hal ini dengan penuh semangat, langsung terbesit di kepala penulis bahwa ternyata para ilmuwan besar Fisika seperti Isaac Newton, James C Maxwell, dan Albert Einstein pun melakukan hal yang sama.

Integrasi ala Newton

Isaac Newton, Bapak Mekanika Klasik, yang hidup di abad ke-17 merumuskan 3 hukum geraknya yang terkenal dan menjadi dasar bagi ilmu fisika sampai sekarang. Tak bisa dipungkiri bahwa para Insinyur Sipil dan Mesin banyak berhutang kepada Newton yang telah mengukuhkan pondasi bagi ilmu mekanika yang mereka gunakan dalam profesi yang mereka geluti dalam membangun gedung pencakar langit, industri, jalan, jembatan, dan dalam membuat mobil, motor, bahkan pesawat.

Selain ketiga hukum geraknya, Newton juga menulis tentang hukum gravitasi universal, yang menyatakan bahwa gaya gravitasi berbanding lurus dengan massa masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda tersebut.

Hampir seabad sebelumnya, Galileo menemukan bahwa benda yang dijatuhkan dari ketinggian akibat gravitasi memiliki percepatan yang sama, tidak tergantung oleh massa benda tersebut (menurut legenda percobaannya dilakukan dari menara Pisa). Penemuannya ini merupakan hal baru, karena sebelumnya Aristoteles menyatakan bahwa percepatan jatuh benda tergantung oleh massa benda tersebut.

Pada dekade yang hampir bersamaan dengan Galileo, Johannes Kepler, astronom Jerman, mengemukakan hukum pergerakan planet yang mendeskripsikan pergerakan planet mengitari matahari.

Hubungan antara gerak jatuh bebas benda yang diobservasi Galileo (Terrestrial Gravity) dengan pergerakan planet (Astronmical Gravity) yang dirumuskan Kepler tidak dapat dilihat oleh para ilmuwan zaman itu. Keduanya diperlakukan secara terpisah, tidak berhubungan sama sekali. Gerak jatuh bebas benda di bumi dengan gerakan planet-planet mengelilingi matahari dilihat sebagai 2 hal yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Hal tersebut berlangsung sampai Newton menerbitkan bukunya yang berjudul “Philosiphiae Naturalis Principia Mathematica” pada tahun 1687. Newton mengintegrasikan konsep terrestrial gravity dan astronomical gravity tersebut dengan mengatakan bahwa keduanya merupakan fenomena yang sama, gravitasi universal.

Berikut cuplikannya :

“I deduced that the forces which keep the planets in their orbs must be reciprocally as the squares of their distances from the centers about which they revolve: and thereby compared the force requisite to keep the Moon in her Orb with the force of gravity at the surface of the Earth; and found them answer pretty neatly.”

Dengan hukum gravitasi universalnya, Newton bahkan mampu merevisi hukum pergerakan planet milik Kepler dan memprediksi keberadaan planet Neptunus, yang belum ditemukan saat itu. See ? Newton jeli melihat kesempatan untuk mengintegrasikan astronomical gravity dan terrestrial gravity ke dalam satu hukum gravitasi universal.

 

Kombinasi Persamaan ala Maxwell

James Clerk Maxwell, yang hidup 2 abad kemudian setelah Newton, merupakan ilmuwan besar Fisika yang menyatukan konsep listrik dan magnet menjadi elektromagnet. Teori elektromagnet klasik yang dikemukakan Maxwell juga merupakan dasar ilmu fisika sampai sekarang. Para Insinyur Elektro berhutang besar kepada Maxwell atas teori gelombang elektromagnetiknya yang berkontribusi besar bagi perkembangan penyediaan listrik (pembangkit listrik) sampai dunia telekomunikasi dan informasi.

Pada mulanya, Para ilmuwan masih memandang gaya listrik dan magnet sebagai dua fenomena yang berbeda, tidak berhubungan sama sekali.

Gaya listrik hanya dikenal sebagai listrik statis yang diformulasikan oleh Charles Augustin de Coulomb, yang dikenal dengan nama Hukum Coulomb : Gaya listrik yang dihasilkan oleh dua partikel bermuatan berbanding lurus dengan muatan masing-masing partikel dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua partikel tersebut. Hukum ini merupakan sebuah kemiripan dengan hukum gravitasi universal Newton. Beberapa dekade kemudian Carl Friedrich Gauss memformulasikan medan listrik dengan formulasi yang lebih umum, dikenal dengan Hukum Gauss untuk Listrik. Hukum Coulomb bisa diturunkan dari Hukum Gauss, sehingga cakupan hukum Gauss lebih universal.

Gaya magnet hanya dikenal sebagai gaya dari sebuah magnet yang menarik logam tertentu seperti besi, nikel, cobalt, dll. Berbeda dengan partikel bermuatan listrik yang bisa memiliki 1 jenis muatan saja (positif atau negatif), magnet selalu memiliki 2 kutub (dipole), utara dan selatan. Sampai sekarang tidak pernah ditemukan magnet satu kutub (monopole). Hal ini dikenal dengan nama Hukum Gauss untuk Magnet.

Keterpisahan magnet dan listrik ini berlangsung sampai Hans Christian Ørsted di tahun 1820 menemukan bahwa arus listrik menimbulkan medan magnet. Hasil ini kemudian direpresentasikan oleh André-Marie Ampère dalam bentuk Hukum Ampere yang menghitung medan magnet yang dihasilkan oleh kawat berarus listrik. Dari sinilah mulai muncul usaha untuk mengintegrasikan konsep listrik dan magnet.

Usaha tersebut diteruskan oleh Michael Faraday yang menemukan bahwa medan magnet yang berubah dapat menghasilkan medan listrik. Faraday kemudian memformulasikan penemuannya dalam Hukum Faraday yang menghitung medan listrik yang dihasilkan oleh perubahan medan magnet tersebut.

Puncaknya, Maxwell dengan jeli melihat kesempatan untuk menyatukan konsep listrik dan magnet ini dengan melakukan sedikit koreksi terhadap persamaan Ampere tersebut, dan kemudian mengkombinasikan keempat persamaan / hukum mengenai listrik dan magnet tersebut menjadi persamaan yang disebut 4 Persamaan Maxwell. Keempat persamaan tersebut adalah Persamaan Gauss untuk Listrik, Persamaan Gauss untuk Magnet, Persamaan Ampere yang dimodifikasi oleh Maxwell, dan Persamaan Faraday. Maxwell tidak menemukan sendiri keempat persamaan tersebut, yang dia lakukan adalah menggabungkannya dan melakukan sedikit koreksi pada persamaan Ampere. Bahkan dengan keempat persamaannya ini, Maxwell mampu memprediksikan bahwa Cahaya adalah Gelombang Elektromagnetik ! Ia juga mampu memperkirakan bahwa kecepatan gelombang elektromagnetik adalah sekitar 300.000 km/detik !! What a great scientists Maxwell is !

Berikut kutipan dari perkataan Maxwell dalam papernya yang berjudul “A dynamical theory of the electromagnetic field” pada tahun 1864 :

“The agreement of the results seems to show that light and magnetism are affections of the same substance, and that light is an electromagnetic disturbance propagated through the field according to electromagnetic laws”

Persamaan Maxwell merupakan fondasi bagi dunia telekomunikasi & informasi yang sekarang berkembang pesat.

 

Dan Einstein lah yang menyelesaikan Paradoks Fisika Terbesar pada zamannya..

Albert Einstein.. Siapa yang tidak mengenalnya ? Ilmuwan Fisika terbesar abad 20 yang sangat terkenal dengan teori relativitasnya yang mengguncangkan dunia persilatan Fisika. Teorinya menjadi dasar bagi pemanfaatan energi nuklir, baik untuk keperluan perang maupun kemanusiaan. Sumbangsih Einstein melalui Teori Relativitas dan sebagian Mekanika Kuantum sangat besar bagi peradaban yang kita nikmati sekarang. Ponsel super mini, Notebook super canggih, dan berbagai gadget canggih lain merupakan buah tidak langsung dari teori yang dikemukakan Einstein.

Implikasi dari mekanika klasik (Galileo & Newton) ialah bahwa gerak itu relatif, tergantung dari sudut pandang mana ia ditinjau. Contohnya, jika ada mobil dan motor berpapasan, masing-masing memiliki kecepatan 60 km/jam dan 40 km/jam terhadap pengamat yang diam, maka bagi motor, mobil bergerak dengan kecepatan 100 km/jam, begitu pula sebaliknya, bagi mobil, motor yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam. Padahal bagi pengamat yang diam, mobil dan motor memiliki kecepatannya sendiri-sendiri, yakni 60 km.jam dan 40 km/jam. Sampai sini intuisi kita masih berkata bahwa ini logis dan dapat diterima akal, bahwa ruang dan waktu adalah mutlak, namun kecepatan itu relatif.

Kebingungan mulai muncul ketika Maxwell memprediksi bahwa kecepatan gelombang elektromagnet (kecepatan cahaya) adalah mutlak 300.000 km/detik. Acuan mana yang digunakan untuk mengukuir kecepatan cahaya ini ? Melalui medium apa gelombang ini merambat ? Tidak ada ilmuwan yang dapat menjawabnya pada saat itu. Sempat muncul hipotesa adanya ether yang berfungsi sebagai kerangka acuan universal dan medium tepmat merambatnya gelombang elektromagnetik, namun hipotesa ini digagalkan salah satunya oleh hasil percobaan Michelson-Morley.

Einstein melihat kesempatan untuk menjawab kebingungan para ilmuwan dan menyelesaikan paradoks besar tersebut. Dalam salah satu postulatnya, Einstein mengatakan bahwa kecepatan gelombang cahaya adalah mutlak, tidak tergantung pada kerangka acuan manapun. Artinya, jika sebuah pesawat penjelajah galaksi “Enterprise” ala Star Trex bergerak dengan kecepatan 100.000 km/detik mendekati ke sebuah bintang yang memancarkan cahaya dengan kecepatan 300.000 km/detik, bagi pengamat yang diam, maupun bagi awak kapal “Enterprise”, kecepatan cahaya bintang itu tetap sama, 300.000 km/detik. Padahal, secara intuisi (Mekanika Klasik), seharusnya cahaya bintang bagi awak kapal “Enterprise” adalah 400.000 km/jam. Einstein melawan mekanika klasik yang telah bertahan lebih dari 2,5 abad !

Berikut kutipannya dari papernya yang berjudul “Zur Elektrodynamik bewegter Körper”, ditulis pada 1905 :

“… light is always propagated in empty space with a definite velocity [speed] c which is independent of the state of motion of the emitting body.”

Konsekuensi dari postulat Einstein ini adalah bahwa Kecepatan Cahaya adalah mutlak, sedangkan ruang dan waktu itu relatif. Ini yang dikenal dengan nama teori relativitas. Artinya, bahwa deifnisi durasi 1 detik bagi gw yang bergerak belum tentu sama dengan definisi durasi 1 detik bagi loe yang diam. Definisi 1 m bagi gw yang diam belum tentu sama dengan definisi 1 m bagi loe yang bergerak. How come ?? It’s so unintuitive !! Ya.. Itu lah teori relativitas, aneh tapi nyata.. Kebenarannya telah dijui dan terbukti teori relativitas Einstein benar beberapa dekade kemudian.

Puncaknya, Einstein menyatukan konsep materi dan energi, bahwa sebenarnya keduanya adalah satu. Hasilnya adalah persamaan ekivalensi massa dan energi yang sangat terkenal, E=mc2.. Konsep ini menjadi dasar bagi pemanfaatan energi nuklir seperti bom atom, dsb.

Einstein juga menyatukan konsep ruang 3 dimensi dan waktu menajdi satu kesatuan 4 dimensi : ruang-waktu (spacetime), bahwa c (kecepatan cahaya) adalah fitur dasar yang menyatukan ruang dan waktu, bukan hanya sekadar kecepatan gelombang elektromagnetik pada ruang hampa. So.. In the beginning there was LIGHT !!!😀

Jadi apa yang bisa dipelajari ?

Dari Newton, kita belajar untuk mengambil kesempatan mengintegrasikan berbagai konsep yang ada untuk memperoleh gambaran yang lebih holistik.. Get the helicopter view..

Maxwell mengajar kita untuk mengambil kesempatan dalam melihat apa yang bisa dilengkapi dari suatu kekurangan untuk kemudian dikolaborasikan dengan yang ada menjadi sesuatu yang harmonis.. Complete the detail tasks..

Last but not the least, Eintein mengajarkan kita mengambil kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, even jika solusi yang ditawarkan mungkin berlawanan dengan arus mayoritas.. Be a brave problem solver..

So.. Grab your opportunity, selama kesempatan itu masih dianugerahkan kepadamu !!!😀

 

Penulisan artikel singkat ini bermula dari message facebook dari pak Merthayasa, salah satu pembimbing TA saya ketika kuliah dulu, yang menyarankan saya untuk menulis artikel mengenai persepsi subyektif saya sebagai pendengar rutin di gedung konser yang baru selesai dibangun tahun 2009 ini. Terinspirasi dari hal tersebut dan kesempatan yang saya peroleh untuk menonton konser di Esplanade, Singapore, beberapa bulan yang lalu, saya memberanikan diri menulis artikel ini sebagai orang yang masih awam di bidang akustik.😀

Berbagai genre musik telah ditampilkan di gedung konser dengan kapasitas 1400 tempat duduk ini, diantaranya Musik “Klasik” karya-karya komponis besar seperti Bach, Handel, Mozart, Beethoven, Mendelssohn, Musik Tradisional Angklung, Musik Choral, sampai yang terakhir adalah Musik Tradisional Cina. Musisi yang tampil di gedung konser ini juga bervariasi, mulai dari musisi lokal, profesor biola dari Taiwan, prominent organist dari USA, penyanyi solo dari Filipina, Singapore, Malaysia, Taiwan, dan USA, musisi alat musik traidisional cina dari Singapore, pianis dari USA & Kanada, pemain biola & cello dari USA, sampai konduktor yang namanya sudah daikui di dunia internasional. Jadi dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung konser ini telah menampilkan karya musik yang bisa dibandingkan dengan yang ditampilkan di Esplanade yang terlebih dahulu dibangun.

Sebagai orang yang cukup awam di bidang akustik, saya akan mengambil kriteria penilaian dari 7 aspek : Intimacy & Warmth, Kejernihan (clarity) suara, kemerataan sebaran (difus) suara, ensemble, bebas dari noise, estetika visual inetrior gedung konser, dan kenyamanan visual.

1. Intimacy & Warmth

Merupakan sebuah “serendipity” bagi saya ketika mendengarkan sebuah karya yang sama dipentaskan di Aula Simfonia Jakarta dan Esplanade dalam waktu yang berdekatan, yakni Piano Concerto No.17 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Piano concerto merupakan sebuah karya musik dimana piano tampil sebagai soloist yang diiringi oleh orkestra. Lokasi tempat duduk yang pernah saya tempati di Aula Simfonia Jakarta dan Esplanade cukup identik, yakni di daerah balkon / mezanin, di tengah, posisi keempat dari barisan paling depan balkon. Jadi, cukup fair kalau saya melakukan perbandingan karakteristik akustik di satu titik yang identik.

Menurut saya, intimacy secara akustik lebih bisa didapatkan ketika saya mendengarkan musik di Aula Simfonia Jakarta. Suara orkestra terdengar lebih dekat, lebih intim di telinga, seperti seolah-oleh mendengar di ruang konser yang berkapasitas kecil. Selain itu, suara orkestra seolah-olah mengisi seluruh ruangan, sehingga kedengarannya sumber suara mengelilingi telinga pendengar. Berbeda halnya dengan Esplanade, suara orkestra terdengar agak jauh, sehingga terdengar kurang intim. Di samping itu, arah suara sangat jelas terdengar dari depan saja, tidak mengelilingi saya sehingga terasa ruangan konser belum penuh dengan suara. Hal ini juga menyebabkan suara orkestra yang terdengar di Aula Simfonia Jakarta cukup warm dibandingkan yang terdengar di Esplanade. Memang tidak bisa dipungkiri kapasitas Eplanade lebih besar daripada Aula Simfonia Jakarta, namun perlu dicatat juga bahwa ukuran orkestra yang bermain di Esplanade lebih besar dari aula Simfonia jakarta.  

Jadi, skor sementara 1-0 untuk Aula Simfonia Jakarta.

2. Clarity

Mozart Piano Concerto merupakan sebuah karya zaman Klasik yang cukup membutuhkan atensi terhadap detail, seperti halnya karya di zaman Barok. Berbeda halnya dengan karya di zaman Romantik yang kurang membutuhkan detail & kepresisian tiap nada dibandingkan zaman Barok dan Klasik.

Ketika mendengarkan karya ini, memang Singapore Symphony Orchestra menampilkan karya ini lebih baik dari segi teknik dibandingkan Jakarta Simfonia Orkestra (JSO). Mereka mampu memainkan karya ini lebih “klasik” dari JSO yang memainkan karya ini lebih “romantik”. Namun kejernihan suara yang terdengar di Aula Simfonia Jakarta lebih baik dibandingkan Esplanade. Setiap detail suara alat musik dan nada yang dimainkan terdengar jelas. Oleh karena itu, kesalahan kecil yang dilakukan pemain mampu didengar oleh penonton.

Seorang concert master sebuah orkestra string ternama di Jakarta ketika pertama kali mendengar clarity Aula Simfonia Jakarta di konser perdana langsung meminta anggotanya yang akan tampil beberapa minggu kemudian untuk berlatih lebih giat. Alasan yang diajukan adalah bahwa kesalahan kecil dari tiap pemain secara individu maupun kurang rapi dan “blend” nya orkestra secara keseluruhan akan terdengar jelas di gedung konser dengan tingkat kejernihan yang sangat baik ini. Clarity yang baik dari sebuah concert hall akan memicu performer untuk berusaha tampil lebih baik.

Tambahan 1 skor lagi untuk Aula Simfonia Jakarta !

3. Diffusion

Saya memiliki kesempatan duduk di posisi yang berbeda-beda di Aula Simfonia Jakarta (ASJ). Mulai dari di balkon tengah depan, belakang, balkon sayap kanan, kiri, di bawah, sampai membelakangi panggung. Karena itu saya cukup bisa menilai bagimana penyebaran suara di gedung konser ini. Namun saya tidak memiliki kesempatan yang sama di Esplanade karena saya hanya pernah sekali berada di sana dan duduk di satu tempat saja, sehingga akan tidak fair jika saya membandingkan keduanya dari aspek diffusion.

Tanpa melakukan perbandingan dari aspek diffussion untuk kedua gedung konser ini, saya hanya dapat menyampaikan diffussion di ASJ saja. Kualitas suara yang terdengar di balkon depan tengah, kanan dan kiri memang lebih baik daripada yang terdengar di daerah yang membelakangi panggung, namun perbedaannya tidak terlalu ekstrem seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau perbedaan kualitas suara antara tempat yang paling ekstrem “baik” dengan tempat yang paling ekstrem “jelek” tidak terlalu ekstrem, saya bisa mengharapkan perbedaan kualitas suara di daerah yang ekstrem “baik” dengan daerah yang tidak terlalu “jelek”, yakni balkon belakang dan bawah tidak terlalu jauh. Dan hal tersebut terbukti ketika saya menempati tempat-tempat tersebut ! Jadi boleh saya simpulkan bahwa kualitas suara cukup tersebar dengan merata di berbagai posisi tempat duduk pendengar.  

4. Ensemble

Selain baik bagi pendengar, gedung konser yang baik juga harus menyajikan kualitas suara yang baik bagi para musisi / performer itu sendiri. Hal ini penting agar pemain yang satu bisa saling mendengarkan satu dengan yang lainnya untuk menyajikan musik yang balance & blend sebagai satu kesatuan performance.

Kesempatan menjadi performer di ASJ juga beberapa kali saya dapatkan (sebagai choir member) dan menurut saya kami cukup dapat mendengar satu dengan yang lain ketika berada di stage. Seperti halnya diffusion, kriteria ini tidak dapat saya bandingkan dengan yang di Esplanade karena tidak pernah menjadi performer di sana.

5. Freedom from Noise

Tingkat kebisingan di sebuah gedung konser haruslah rendah agar tidak mengganggu suara musik yang ditampilkan. Kebisingan bisa muncul dari AHU / AC, kebisingan dari luar, dsb. Ada noise criteria maksimum yang tidak boleh dilewati oleh sebuah gedung konser. Dramatisnya, suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas di keheningan sebuah gedung konser. 

Menurut saya, kedua gedung konser memiliki kebebasan terhadap noise yang baik. Jadi dalam kriteria ini, score nya sama. Keduanya mendapat 1 poin untuk kriteria ini.

6. Estetika Visual

ASJ didominasi oleh warna coklat dengan komponen terbanyak adalah berbagai jenis kayu, dikelilingi oleh lukisan para komposer besar dan patung-patung pemusik, serta lampu kristal yang anggun di atas tengah stage. Secara umum, hal ini memberikan kesan hangat dan welcome bagi penonton.

Esplanade didominasi oleh warna coklat kayu diselingi ornamen-ornamen berwarna hitam serta karpet dan kursi berwarna hijau memberikan kesan elegan dan eksklusif.

Sehingga bisa disimpulkan keduanya sama-sama indah namun memiliki karakter yang berbeda. Cukup fair rasanya jika saya berikan kedua gedung konser 1 poin terkait hal ini. 

7. Kenyamanan Visual

Kenyamanan visual yang baik berarti penonton dapat melihat para performer dengan jelas dan nyaman dari tempat duduk masing-masing tanpa terhalang apa pun.

Di ASJ memang ada beberapa tempat yang kurang nyaman secara visual karena di tempat tersebut hanya sebagian besar performer yang dapat terlihat jelas, sebagian kecil terhalang oleh bagian bawah balkon. Tempat itu adalah di balkon kanan dan kiri di daerah paling ujung. Tempat lain yang kurang nyaman secara visual adalah di balkon yang membelakangi stage dan di samping kiri dan kanan stage. Terlepas dari daerah-daerah yang tidak nyaman tersebut, secara umum posisi tempat duduk penonton melingkari stage dan langsung mengarah ke stage, sehingga leher penonton dapat diletakkan dalam posisi yang cukup lurus untuk menikmati konser.

Di Esplanade, tempat-tempat yang kurang nyaman juga dapat ditemukan di daerah yang tipikal dengan ASJ. Namun ada beberapa tempat yang dapat membuat “sakit leher”, karena kursi penonton yang mengelilingi stage dengan bentuk agak lonjong dan berbaris memanjang, seperti duduk di bus kota. Sehingga penonton yang duduk di balkon sayap kiri dan kanan harus mengarahkan lehernya ke kanan atau kiri bawah untuk melihat langsung ke stage.

Terkait kenyamanan visual ini, saya lebih memilih ASJ dibandingkan Esplanade.

Jadi, hasil akhir ASJ Vs Esplanade adalah 5-2, menurut penilaian subyektif saya.

Jika ada kesempatan mengunjungi gedung konser di berbagai tempat di berbagai belahan dunia, saya senantiasa berharap gedung konser ini tetap menjadi favorit saya di antara gedung konser dengan akustik terbaik di dunia, seperti yang telah diakui oleh seorang konduktor ternama dari USA kelahiran Indonesia yang telah membawa concert master dan principal cellist nya untuk bermain musik di ASJ beberapa waktu yang lalu.   

Indonesia patut bersyukur karena telah dianugerahi sebuah gedung konser yang baik dan sudah selayaknya musisi terbaik negeri ini maupun dunia untuk tampil memainkan musik yang bermutu tinggi si sini.

Kiranya ASJ dapat terus menjadi wadah bagi para musisi untuk terus berkarya bagi kemajuan musik di negeri ini..

Posted by: adhiwin | April 24, 2009

Gain or Loss ?

aslan-and-lucyMereka menemukan Edmund dirawat Bu Berang-berang sedikit dibelakang garis pertempuran. Tubuhnya tertutup darah, mulutnya terbuka, dan wajahnya kehijauan.

 

“Cepat, Lucy,” kata Aslan.

 

Kemudian, hampir untuk pertama kalinya Lucy ingat botol cairan berharga yang diberikan kepadanya sebagai hadiah Natal. Tangannya gemetar begitu hebat sehingga dia nyaris tidak bias membuka tutupnya, tapi akhirnya dia berhasil dan menuangkan beberapa tetes isinya ke dalam mulut saudaranya.

 

“Ada yang lain yang juga terluka,” kata Aslan ketika Lucy masih menatap penuh harap kepada wajah pucat Edmund dan bertanya-tanya apakah cairan itu berhasil.

 

“Ya, aku tahu,” kata Lucy kesal. “Tunggu sebentar.”

 

“Putri Hawa,” kata Aslan dengan suara lebih tegas, “yang lain juga sedang sekarat. Apakah harus ada yang lain meninggal karena Edmund?”

 

(Cited from The Chronicles of Narnia : The Lion, the Witch, and the Wardrobe, by C.S.Lewis)

 

Share my precious ? Serve the others ? Hmmm…

 

OK, let say I am not a selfish person.. I do care my neighbours.. I am the big giver !!

 

Hey.. But at the same time you have to fully pay attention to your beloved one coz you’re gonna loose him / her forever……

 

Then, I’ll start to make an excuse.. C’mon.. This time only.. I’ll take a break just for a while, please.. It’s not about me ! It’s about the people I love ! I just want to help him / her. Don’t You understand ? I do it for others, not for myself ! Really ! Even I do not care about myself, I am not a selfish man ! I really can’t understand why You ask me to give it to others !! Why do You ask to serve the others during this condition? Stop disturbing my life !

 

But ask yourself first….

 

I have the things which are belong to me

or

I am just borrowed those things that actually belong to HIM ?

 

 

I will loose my precious

or

I will get a special opportunity to learn sharing HIS grace to others ?

 

 

It’s really about my beloved one loosing something he / she need

or

It’s just about me afraid of loosing him / her?

 

 

I willingly get nothing but just see my beloved one is OK

or

I willingly get nothing but just dedicate my best to HIM?

 

 

I know the best for my beloved one

or

HE knows the best for all of HIS beloved?

 

 

Remember Elijah, who poured the water during the battle with false prophet in Mount Carmel ?

 

Just like Ko Billy said that it is not just to call attention to the super power of his God on fire miracle afterwards. The meaning is higher than that. Water is the most precious thing during that heavy drought period, but he dedicated it to God.

 

The people around him might shout to him, “How dare you throw away the most precious things! People really need the water, and you just threw it away in a large amount? It’s much better should you give it to the thirsty ones! Insane! Seriously ??? Seriously !!!!”

 

But..

 

He knows how high God’s demand is..

He understands his position and God’s position..

He knows what a true giving is..

He understands what kind of tribute that he has to dedicate to God..

He fully understands that God will fulfil their need adequately in His point of view..

 

My Lord always gives the best for me, even The Most Precious One to me, what is my response?

 

Let’s see her decision after a hard consideration….

 

“Maafkan aku, Aslan,” kata Lucy, bangkit dan pergi bersama singa itu.

 

…….

 

Ketika akhirnya bebas untuk kembali kepada Edmund, Lucy melihat kakaknya berdiri sendiri dan bukan saja sembuh dari luka-lukanya, tapi juga tampak jauh lebih baik daripada lama sebelumnya.

 

 

Yes, I always know the answer, as guessed. But remember, it is not as simple as I thought to make it real!

 dedication-posters

Perhaps it may not a happy ending story, like this story, but it does not matter, coz you’ve done your part well. You’ve dedicated your best to God, coz He deserved receive the best. 

 

So,

It’s not about got something or looses something…

It’s about self denial,

It’s about sharing,

It’s about giving,

It’s about dedication,

It’s about tribute….

Posted by: adhiwin | January 2, 2009

100% Partikel & 100% Gelombang !!!

atom-with-electronsPartikel itu…. ya… partikel,

  • Dalam waktu tertentu hanya bisa berada dalam satu posisi dalam ruang 3 dimensi.
  • Countable
  • 1 + 1 = 2
  • Memiliki massa tertentu.
  • Diskrit, terkuantisasi
  • Bisa digunakan sebagai medium oleh gelombang untuk merambat

waveblu Gelombang itu…. ya… gelombang,

  • Dalam waktu tertentu bisa memenuhi ruang 3 dimensi tertentu
  • Uncountable
  • 1 + 1 = Tergantung hasil interferensi
  • Tidak memiliki massa
  • Continous
  • Gangguan yang merambat

 

Tapi ilmu Fisika modern telah membuktikan bahwa : Partikel pada momen tertentu berperilaku seperti Gelombang, dan Gelombang pada momen tertentu berperilaku seperti partikel.

 

How come ???

 

Rasio dan insting memaksa kita untuk berkata bahwa ini tidak mungkin, tapi Fakta ilmu Fisika Modern memaksa kita untuk berkata bahwa ini memang bukan saja mungkin, tapi memang demikian adanya.

 

Cahaya itu ya gelombang.. But, Wait a minute !! See this phenomenon first sebelum mengambil kesimpulan.

 

Heinrich Rudolf Hertz menemukan fenomena efek Fotolistrik yang membingungkan para Fisikawan waktu itu.

 

photoelectric-1

 

Sebuah logam ketika diberi cahaya akan melepaskan elektron, yang akan menghasilkan arus listrik jika disambung ke rangkaian tertutup.

Jika cahaya adalah gelombang seperti yang telah diprediksikan oleh Fisika klasik, maka seharusnya semakin tinggi intensitas cahaya yang diberikan maka semakin besar arus yang terdeteksi. Namun hasil eksperimen menunjukkan bahwa walaupun intensitas cahaya yang diberikan maksimum, elektron tidak muncul juga dari plat logam.

 

 

photoelectric-2

 

Tetapi ketika diberikan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek (frekuensi lebih tinggi, ke arah warna ungu dari spektrum cahaya) dari sebelumnya, tiba-tiba elektron lepas dari plat logam sehingga terdeteksi arus listrik, padahal intensitas yang diberikan lebih kecil dari intensitas sebelumnya. Berarti, energi yang dibutuhkan oleh plat logam untuk melepaskan elektronnya tergantung pada panjang gelombang. Fenomena ini tidak dapat dijelaskan oleh para Fisikawan pada waktu itu. Kalau cahaya itu memang benar-benar gelombang, yang memiliki sifat kontinyu, bukankah seharusnya energi yang bisa diserap darinya bisa bernilai berapa saja ? Tapi ternyata hanya jumlah energi tertentu saja yang bisa diserap untuk melepaskan elektron bebas.

 

photon

 

Teka-teki ini akhirnya dijawab oleh Albert Einstein, yang mengemukakan bahwa cahaya terkuantisasi dalam gumpalan, gumpalan partikel cahaya yang disebut foton. Energi yang dibawa oleh foton sebanding dengan frekuensi cahaya dan tetapan yang disebut konstanta Planck. Dibutuhkan sebuah foton dengan energi yang lebih tinggi dari energi ikatan elektron untuk melepaskan elektron keluar dari plat logam. Ketika frekuensi cahaya yang diberikan masih rendah, maka walaupun intensitas cahaya yang diberikan maksimum, foton tidak memiliki cukup energi untuk melepaskan electron dari ikatannya. Tapi ketika frekuensi cahaya yang diberikan lebih tinggi, maka walaupun terdapat hanya 1 foton saja (intensitas rendah) dengan energi yang cukup, foton tersebut mampu untuk melepaskan 1 elektron dari ikatannya. Intensitas cahaya dinaikkan berarti akan semakin banyak jumlah foton yang dilepaskan, akibatnya semakin banyak elektron yang akan lepas. Einstein menjawab teka-teki mengenai fotolistrik.

 

Perilaku cahaya yang seperti partikel ini lebih di dramatisir pada efek Compton. Ketika sebuah electron disinari oleh sinar X-ray atau Gamma, maka elektron tersebut akan terpental dan frekuensi sinar yang ditembakkan akan berkurang.

 96917-004-def9830c

Fenomena ini mirip dengan tumbukan 2 buah bola billiard. Bola putih yang menumbuk bola lain akan menyebabkan bola lain tersebut terpental dengan sudut tertentu terhadap bola putih, dan kecepatan bola putih akan berkurang.

 

billia24

 

  

Teori Einstein bahwa cahaya terdiri dari gumpalan foton dapat menjawab efek Compton tersebut. Sebuah foton (bola putih) akan bertumbukan dengan elektron (bola berwarna) sehingga menyebabkan elektron terpental dengan sudut tertentu dan energi foton berkurang sehingga momentum total foton dan elektron tetap kekal.

 

compton

 

Cahaya punya momentum ?

 

Jadi cahaya itu gelombang atau partikel ?

Atau dia merupakan gelombang dan sekaligus juga partikel?

 

 

Elektron itu ya partikel.. But, wait a minute !! See this phenomenon first sebelum mengambil kesimpulan.

 

interferensi-youngThomas Young menemukan fenomena interferensi cahaya yang penting, yang terkenal dengan nama eksperimen interferensi celah ganda Young. Ketika gelombang cahaya monokromatis ditembakkan ke dua celah yang bersebelahan, maka akan terjadi interferensi gelap-terang yang kontinu karena di satu tempat puncak gelombang bertemu dengan puncak gelombang lainnya menghasilkan interferensi maksimum,sehingga terlihat terang maksimum, dan di tempat lain, lembah gelombang bertemu dengan lembah gelombang lainnya menghasilkan interferensi minimum, sehingga terlihat gelap.

 

 

youngsdoubleslit

 

Fenomena yang sangat berebeda akan terjadi apabila yang ditembakkan adalah partikel. Jika sebuah senapan electron menembaki dinding yang berisi 2 celah tersebut, maka rasio dan insting kita akan mengatakan bahwa beberapa elektron akan terkumpul di satu sisi di belakang celah, dan beberapa electron lainnya akan terkumpul di satu sisi di belakang celah satunya. Tidak ada interferensi.

sgt_gunn 

Tapi benarkah itu yang terjadi ??? Tidak ! Eksperimen menunjukkan bahwa elektron tersebut berinterferensi membentuk posisi gelap-terang, persis seperti pola interferensi cahaya Young.

 

double-slit_experiment_results_tanamura_2

 

Elektron berinterferensi ?

 

Jadi elektron itu partikel atau gelombang ?

Atau dia merupakan gelombang dan sekaligus juga partikel ?

 

65600218_d81c86041dSo, I was wondering to myself:

What is the mystery behind this phenomena ?

Is it just a shadow of the bigger phenomena about The Creator to shows one among many of His marvellous works?

 

I let you find the answer!

Posted by: adhiwin | August 13, 2008

Another Side

It was started with the phone conversation.

Me         : Hu..hu.. I’m very sad, feel lonely.. (huuuhh.. so menye-menye..)

Him        : Yeah, but it’s the best way to solve that never-ending  problem..

Me         : But it’s not fair at all.. It’s not fair.. Coz u will have someone else who escort u to face the problem, someone else who will substitute the problem. It will be easier for you to solve it. And Me ???  I have no one that will be with me passing this phase.

 Him       : I’m absolutely sure you will be able to pass this, bro. You have made promise to yourself, and I have made it also to myself. This is the best way. Then find someone who will accompany u.

Me         : Oh. C’mon… Who ??? Who will be with me ??? This is absolutely not fair !! Not fair !! You will have a lot of support from her !! And me ?? No one !! No one !! not a single person !! It’s selfish !! I’m very sad about it, bro.. I’m very very sad…

Him        : Hmmm.. Don’t be sad bro. It’s the best way for us…

Me         : No..no… it’s not fair…

Him        : You’re stronger than me, you’re tougher than me.. That’s why you will face it lonely..  But me, I may be weaker than you. I may not able to face it lonely just like you. That’s why I am granted someone helping me.

Me         : ……….

I was speechless, then I was wondering to myself..  Am I ???? Really ?? I don’t think so.. or It’s just his trick to make me calm down ???

Me         : Yeah.. whatever, bro.. but I’m still sad

Him        : Be strong and take your courage, bro. You will pass it and I’m sure that you will find someone, someone special who will be the best for you. Take care, bro. Bye.

Me         : OK. Bye.. Thanks.

This conversation made me think again.. Yeah, I always see the bad side, only the bad impact on me.. I rarely see the good things, the good impact for me.  So selfish !!

Yeah.. Awe, turn the angle please…. Whenever you want to have pity on yourself, please always think that this is the very best way, so there must be goodness in everything that you face. HE knows your learning portion. Turn your way of think !!! I encourage myself : Never have pity on myself again !!! I will face it, not run away from it. I will be able to make it, coz a special oportunity to be developed into a tough man is given for me Yeah..

And it was finished with the hope. Coz hope will never fail, even though love and faith does. A Hope that I will be tough…..

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.