Posted by: adhiwin | July 6, 2010

Aula Simfonia Jakarta Vs Esplanade : A Subjective Approach

 

Penulisan artikel singkat ini bermula dari message facebook dari pak Merthayasa, salah satu pembimbing TA saya ketika kuliah dulu, yang menyarankan saya untuk menulis artikel mengenai persepsi subyektif saya sebagai pendengar rutin di gedung konser yang baru selesai dibangun tahun 2009 ini. Terinspirasi dari hal tersebut dan kesempatan yang saya peroleh untuk menonton konser di Esplanade, Singapore, beberapa bulan yang lalu, saya memberanikan diri menulis artikel ini sebagai orang yang masih awam di bidang akustik. 😀

Berbagai genre musik telah ditampilkan di gedung konser dengan kapasitas 1400 tempat duduk ini, diantaranya Musik “Klasik” karya-karya komponis besar seperti Bach, Handel, Mozart, Beethoven, Mendelssohn, Musik Tradisional Angklung, Musik Choral, sampai yang terakhir adalah Musik Tradisional Cina. Musisi yang tampil di gedung konser ini juga bervariasi, mulai dari musisi lokal, profesor biola dari Taiwan, prominent organist dari USA, penyanyi solo dari Filipina, Singapore, Malaysia, Taiwan, dan USA, musisi alat musik traidisional cina dari Singapore, pianis dari USA & Kanada, pemain biola & cello dari USA, sampai konduktor yang namanya sudah daikui di dunia internasional. Jadi dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung konser ini telah menampilkan karya musik yang bisa dibandingkan dengan yang ditampilkan di Esplanade yang terlebih dahulu dibangun.

Sebagai orang yang cukup awam di bidang akustik, saya akan mengambil kriteria penilaian dari 7 aspek : Intimacy & Warmth, Kejernihan (clarity) suara, kemerataan sebaran (difus) suara, ensemble, bebas dari noise, estetika visual inetrior gedung konser, dan kenyamanan visual.

1. Intimacy & Warmth

Merupakan sebuah “serendipity” bagi saya ketika mendengarkan sebuah karya yang sama dipentaskan di Aula Simfonia Jakarta dan Esplanade dalam waktu yang berdekatan, yakni Piano Concerto No.17 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Piano concerto merupakan sebuah karya musik dimana piano tampil sebagai soloist yang diiringi oleh orkestra. Lokasi tempat duduk yang pernah saya tempati di Aula Simfonia Jakarta dan Esplanade cukup identik, yakni di daerah balkon / mezanin, di tengah, posisi keempat dari barisan paling depan balkon. Jadi, cukup fair kalau saya melakukan perbandingan karakteristik akustik di satu titik yang identik.

Menurut saya, intimacy secara akustik lebih bisa didapatkan ketika saya mendengarkan musik di Aula Simfonia Jakarta. Suara orkestra terdengar lebih dekat, lebih intim di telinga, seperti seolah-oleh mendengar di ruang konser yang berkapasitas kecil. Selain itu, suara orkestra seolah-olah mengisi seluruh ruangan, sehingga kedengarannya sumber suara mengelilingi telinga pendengar. Berbeda halnya dengan Esplanade, suara orkestra terdengar agak jauh, sehingga terdengar kurang intim. Di samping itu, arah suara sangat jelas terdengar dari depan saja, tidak mengelilingi saya sehingga terasa ruangan konser belum penuh dengan suara. Hal ini juga menyebabkan suara orkestra yang terdengar di Aula Simfonia Jakarta cukup warm dibandingkan yang terdengar di Esplanade. Memang tidak bisa dipungkiri kapasitas Eplanade lebih besar daripada Aula Simfonia Jakarta, namun perlu dicatat juga bahwa ukuran orkestra yang bermain di Esplanade lebih besar dari aula Simfonia jakarta.  

Jadi, skor sementara 1-0 untuk Aula Simfonia Jakarta.

2. Clarity

Mozart Piano Concerto merupakan sebuah karya zaman Klasik yang cukup membutuhkan atensi terhadap detail, seperti halnya karya di zaman Barok. Berbeda halnya dengan karya di zaman Romantik yang kurang membutuhkan detail & kepresisian tiap nada dibandingkan zaman Barok dan Klasik.

Ketika mendengarkan karya ini, memang Singapore Symphony Orchestra menampilkan karya ini lebih baik dari segi teknik dibandingkan Jakarta Simfonia Orkestra (JSO). Mereka mampu memainkan karya ini lebih “klasik” dari JSO yang memainkan karya ini lebih “romantik”. Namun kejernihan suara yang terdengar di Aula Simfonia Jakarta lebih baik dibandingkan Esplanade. Setiap detail suara alat musik dan nada yang dimainkan terdengar jelas. Oleh karena itu, kesalahan kecil yang dilakukan pemain mampu didengar oleh penonton.

Seorang concert master sebuah orkestra string ternama di Jakarta ketika pertama kali mendengar clarity Aula Simfonia Jakarta di konser perdana langsung meminta anggotanya yang akan tampil beberapa minggu kemudian untuk berlatih lebih giat. Alasan yang diajukan adalah bahwa kesalahan kecil dari tiap pemain secara individu maupun kurang rapi dan “blend” nya orkestra secara keseluruhan akan terdengar jelas di gedung konser dengan tingkat kejernihan yang sangat baik ini. Clarity yang baik dari sebuah concert hall akan memicu performer untuk berusaha tampil lebih baik.

Tambahan 1 skor lagi untuk Aula Simfonia Jakarta !

3. Diffusion

Saya memiliki kesempatan duduk di posisi yang berbeda-beda di Aula Simfonia Jakarta (ASJ). Mulai dari di balkon tengah depan, belakang, balkon sayap kanan, kiri, di bawah, sampai membelakangi panggung. Karena itu saya cukup bisa menilai bagimana penyebaran suara di gedung konser ini. Namun saya tidak memiliki kesempatan yang sama di Esplanade karena saya hanya pernah sekali berada di sana dan duduk di satu tempat saja, sehingga akan tidak fair jika saya membandingkan keduanya dari aspek diffusion.

Tanpa melakukan perbandingan dari aspek diffussion untuk kedua gedung konser ini, saya hanya dapat menyampaikan diffussion di ASJ saja. Kualitas suara yang terdengar di balkon depan tengah, kanan dan kiri memang lebih baik daripada yang terdengar di daerah yang membelakangi panggung, namun perbedaannya tidak terlalu ekstrem seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau perbedaan kualitas suara antara tempat yang paling ekstrem “baik” dengan tempat yang paling ekstrem “jelek” tidak terlalu ekstrem, saya bisa mengharapkan perbedaan kualitas suara di daerah yang ekstrem “baik” dengan daerah yang tidak terlalu “jelek”, yakni balkon belakang dan bawah tidak terlalu jauh. Dan hal tersebut terbukti ketika saya menempati tempat-tempat tersebut ! Jadi boleh saya simpulkan bahwa kualitas suara cukup tersebar dengan merata di berbagai posisi tempat duduk pendengar.  

4. Ensemble

Selain baik bagi pendengar, gedung konser yang baik juga harus menyajikan kualitas suara yang baik bagi para musisi / performer itu sendiri. Hal ini penting agar pemain yang satu bisa saling mendengarkan satu dengan yang lainnya untuk menyajikan musik yang balance & blend sebagai satu kesatuan performance.

Kesempatan menjadi performer di ASJ juga beberapa kali saya dapatkan (sebagai choir member) dan menurut saya kami cukup dapat mendengar satu dengan yang lain ketika berada di stage. Seperti halnya diffusion, kriteria ini tidak dapat saya bandingkan dengan yang di Esplanade karena tidak pernah menjadi performer di sana.

5. Freedom from Noise

Tingkat kebisingan di sebuah gedung konser haruslah rendah agar tidak mengganggu suara musik yang ditampilkan. Kebisingan bisa muncul dari AHU / AC, kebisingan dari luar, dsb. Ada noise criteria maksimum yang tidak boleh dilewati oleh sebuah gedung konser. Dramatisnya, suara jarum jatuh pun bisa terdengar jelas di keheningan sebuah gedung konser. 

Menurut saya, kedua gedung konser memiliki kebebasan terhadap noise yang baik. Jadi dalam kriteria ini, score nya sama. Keduanya mendapat 1 poin untuk kriteria ini.

6. Estetika Visual

ASJ didominasi oleh warna coklat dengan komponen terbanyak adalah berbagai jenis kayu, dikelilingi oleh lukisan para komposer besar dan patung-patung pemusik, serta lampu kristal yang anggun di atas tengah stage. Secara umum, hal ini memberikan kesan hangat dan welcome bagi penonton.

Esplanade didominasi oleh warna coklat kayu diselingi ornamen-ornamen berwarna hitam serta karpet dan kursi berwarna hijau memberikan kesan elegan dan eksklusif.

Sehingga bisa disimpulkan keduanya sama-sama indah namun memiliki karakter yang berbeda. Cukup fair rasanya jika saya berikan kedua gedung konser 1 poin terkait hal ini. 

7. Kenyamanan Visual

Kenyamanan visual yang baik berarti penonton dapat melihat para performer dengan jelas dan nyaman dari tempat duduk masing-masing tanpa terhalang apa pun.

Di ASJ memang ada beberapa tempat yang kurang nyaman secara visual karena di tempat tersebut hanya sebagian besar performer yang dapat terlihat jelas, sebagian kecil terhalang oleh bagian bawah balkon. Tempat itu adalah di balkon kanan dan kiri di daerah paling ujung. Tempat lain yang kurang nyaman secara visual adalah di balkon yang membelakangi stage dan di samping kiri dan kanan stage. Terlepas dari daerah-daerah yang tidak nyaman tersebut, secara umum posisi tempat duduk penonton melingkari stage dan langsung mengarah ke stage, sehingga leher penonton dapat diletakkan dalam posisi yang cukup lurus untuk menikmati konser.

Di Esplanade, tempat-tempat yang kurang nyaman juga dapat ditemukan di daerah yang tipikal dengan ASJ. Namun ada beberapa tempat yang dapat membuat “sakit leher”, karena kursi penonton yang mengelilingi stage dengan bentuk agak lonjong dan berbaris memanjang, seperti duduk di bus kota. Sehingga penonton yang duduk di balkon sayap kiri dan kanan harus mengarahkan lehernya ke kanan atau kiri bawah untuk melihat langsung ke stage.

Terkait kenyamanan visual ini, saya lebih memilih ASJ dibandingkan Esplanade.

Jadi, hasil akhir ASJ Vs Esplanade adalah 5-2, menurut penilaian subyektif saya.

Jika ada kesempatan mengunjungi gedung konser di berbagai tempat di berbagai belahan dunia, saya senantiasa berharap gedung konser ini tetap menjadi favorit saya di antara gedung konser dengan akustik terbaik di dunia, seperti yang telah diakui oleh seorang konduktor ternama dari USA kelahiran Indonesia yang telah membawa concert master dan principal cellist nya untuk bermain musik di ASJ beberapa waktu yang lalu.   

Indonesia patut bersyukur karena telah dianugerahi sebuah gedung konser yang baik dan sudah selayaknya musisi terbaik negeri ini maupun dunia untuk tampil memainkan musik yang bermutu tinggi si sini.

Kiranya ASJ dapat terus menjadi wadah bagi para musisi untuk terus berkarya bagi kemajuan musik di negeri ini..

Advertisements

Responses

  1. Nice comparison, adhiwin!

  2. Gw beberapa kali nonton konser klasik: orkestra (di Muziekgebouw Frits Philips Eindhoven) maupun solo piano (Wibi Soerjadi & Evgeny Kissin, di Het Concertgebouw Amsterdam). Tapi selalu dapet sound-effect “source dari 1-titik”. Kayaknya, ASJ keren banget nih effect suara nya… jadi gak sabar, kudu di datengin nih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: