Posted by: adhiwin | July 19, 2008

(Beautifully) Complicated

A week ago, I received an SMS from my little “menye-menye” (used to be or not.. I don’t know.. He..he..)dogol bro, who lives in the middle of nowhere.

He said, “Happy Sunday.. May His Grace shining upon you all day” and he quoted some sentences from Michael W Smith’s song, “Friend”.

I replied, “Thank you. Hey, that’s the sentences from Michael W Smith’s song, Friend, isn’t it ? How r u ?”.

He answered, ” Yupie… I’ve just heard that song from my notebook. I’m doing just fine here, hoping the same for you.. How r you doing there ?”

A week before, I got some personal problem (hey.. it’s not work related problem, not as usual.. ^_^) and I was completely stucked with it. I just tried to escape from it (Yea..yea.. I know.. It’s my bad old habit) by not thinking of it at all, avoiding my mind think about it…

Then I told him my story, and he replied, “Someone told, it’s not good to escape from the problem”

Whoopssss… That “someone” is ME !!! I was stubbed !!!!!! D*M* !!! He used my word !!! I fully remember that I said to him not to escape from the problem, but face it, think the solution, coz it’s not helpfull at all if you were avoiding it.  Sooner or later you will face it, either you are willing to face it or not…. It’s unstoppable..   Yeaaahh.. it’s easier to talk than to walk the talk.. 

Then I said, “Yeah… I know.. I know.. Life is complicated and difficult… ”

He replied, “If it isn’t difficult, It’s not life. Life is beautifully complicated thing.. I’m sure you can handle it.. If you can convinced me to face it, I bet you can handle it. It’s not that difficult.. You are one of the thoughest person I know” (the last sentence is not right.. as I always complain about all things.. He just don’t know.. Ha..ha….)

Hmm… OK.. Yeaahhh.. I fully agree with that statement.. It is difficult, but also beautiful. Our priest, Pak Tong, always remind us “Thank for every difficulties that you get, coz the difficulties itself is a wonderful gift”.  When I faced “the valley” a few years ago, I realize that statement. I learn sooo many things from it. It changed my character..

The harder the struggle, the tougher you will be.  Then, make it not only just a knowledge for you, AWe… Live in it !!!! Be brave, take courage !!!

The score is 1-1 right now.. The result is temporary draw…

Posted by: adhiwin | May 28, 2008

From Renaissance to Romantic (Part Two)

Let’s continue with Baroque Music !

Kata Baroque diperkirakan berasal dari bahasa Protugis kuno “barroco” yang berarti mutiara yang memiliki bentuk yang tidak bundar teratur namun lekukannya sangat kompleks dan detail. Terminologi Baroque dalam konteks informal sering dikaitkan dengan elaborasi (detail, complex, highly structured).  

“The Abduction of Europa” by Rembrandt

Let’s see bagaimana style Baroque yang berkembang pada abad ke-17 dalam berbagai bidang selain musik sebelum melihat bagaimana musik Baroque itu sendiri.

Arsitektur Baroque memiliki beberapa karakteristik, diantaranya naves yang zaman sebelumnya panjang dan sempit digantikan oleh bentuk yang lebih lebar dan sirkular, penggunaan cahaya secara dramatis, kaya akan ornamen, langit-langit yang dipenuhi fresco (wall painting) dalam skala besar, facade eksternal yang memiliki karakter proyeksi terpusat yang dramatis, interior seringkali tidak lebih dari tempat bagi lukisan dan patung ukiran.  Arsitektur Baroque tergolong mewah karena karakteristik-karakteristik yang telah disebutkan tadi. Tidak sedikit uang yang dibutuhkan untuk membuat suatu bangunan bergaya arsitektur Baroque. Namun perlu diingat bahwa pada zaman ini kolonialisme Eropa mulai bangkit. Kolonialisme membuat Eropa menjadi kaya dengan mengambil barang-barang dari negara yang mereka taklukan di belahan dunia luar Eropa. Oleh karena itu, isu keterbatasan finansial dalam membuat bangunan dengan style Baroque tidak terlalu relevan bagi orang zaman Baroque. 

Kiri : San Benedetto, Catania. Kanan : Doorway of the Jesuit college, Heiligenstadt

Kiri : Les Invalides, Paris. Kanan : Sant’Ivo alla Sapienza.

Style Baroque pada lukisan terlihat dari karakteristik yang lebih dramatis, memiliki warna yang lebih kaya dan dalam, pencahayaan yang lebih intens dan bayangan yang lebih gelap dibandingkan lukisan Renaissance. Dramatisasi ini terlihat juga dalam karya patung ukiran. Patung ukiran Baroque memilih titik yang paling dramatis, momen ketika even itu terjadi. Contoh : Michaelangelo (seniman Renaissance) membuat patung Daud sebelum bertempur dengan Goliat yang digambarkan sedang berdiri  memancarkan kegagahan seorang pria (gambar kiri). Berbeda halnya dengan patung Daud oleh Bernini (seniman Baroque) yang melukis momen ketika Daud sedang menarik ketapelnya sekuat tenaga untuk melemparkan batu menuju kepala Goliat (gambar kanan). Emosi dan passion lebih dimunculkan pada zaman Baroque, bandingkan dengan ketenangan rasional yang diagungkan di zaman Renaissance.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prinsip estetika yang serupa dengan arsitektur, lukisan, dan patung ukiran Baroque juga terlihat dalam Musik Baroque. Seperti halnya arsitektur Baroque, musik Baroque juga penuh dengan ornamentasi, memiliki kompleksitas yang tinggi dan detail.  Ornamen-ornamen seperti : Appoggiatura, Acciaccatura, Mordents, Trills, dan Turns mewarnai musik Baroque.

Teknik polyphony dan counterpoint yang digunakan di zaman Renaissance tetap digunakan di zaman Baroque, namun dikembangkan lebih lanjut. Pada zaman Renaissance, harmoni adalah hasil dari konsonan sesaat yang menuju pada aliran polyphony. Namun pada zaman Baroque, harmoni menjadi suatu hal yang penting, tidak hanya sesuatu yang bersifat insidental seperti di zaman Renaissance. Harmoni mucul sebagai chord yang merupakan suatu bentuk kumpulan beberapa nada yang dimainkan secara bersamaan dan memiliki fungsi yang penting di dalam sebuah komposisi.

Ritme dalam musik Baroque terdengar lebih jelas dibandingkan dengan ritme dalam musik Renaissance. Pendengar musik Baroque dapat dengan mudah mengikuti  ketukan musik Baroque.

Beberapa bentuk dan style musik berkembang di zaman Baroque seperti Suite (Allemande, Courante, Sarabande, Gigue, Gavotte, Minuet, Air, dll…), trio sonata, concerto grosso, cantata, dll…

Seperti  lukisan dan patung ukiran Baroque, musik Baroque terdengar lebih “colorful” dan “ekspresif” dibandingkan dengan musik Renaissance. Apa yang penyebabnya ? Musik Renaissance mementingkan struktur (istilah Jethro : “form over function”) sehingga yang terjadi ialah kata-kata menyesuaikan diri dengan nada lagu tersebut. Sehingga arti, ekspresi dari karya musik Renaissance tidak terlalu jelas. Apakah sang komposer ingin mengekpresikan keagungan, kesedihan, dsb, tidak terlalu jelas terlihat dalam musiknya walaupun musiknya terdengar sangat kaya dan indah. Di zaman Baroque, arti dan ekspresi dari suatu karya musik mulai mendapat peranan penting. Namun bukan berarti yang terjadi adalah bentuk, struktur, komposisi musik diabaikan, melainkan apa yang baik pada zaman Renaissance dikembangkan lagi. Musik disesuaikan dengan kata-kata dan arti dari karya yang dibuat. Jadi pada zaman ini yang terjadi bukanlah “function over form”, tetapi “function in form and form in function”. Arti dan ekspresi sebuah karya musik memang penting, tetapi bentuk, komposisi, dan struktur musik itu sendiri juga penting. Kata-kata di dalam musik, dan musik di dalam kata-kata. Satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan diantara function dan form. 

Musik Baroque lebih memiliki artikulasi dibandingkan dinamika. Namun bukan berarti musik Baroque tidak memiliki dinamika sama sekali. Musik Baroque memiliki dinamika, dan dinamika merupakan suatu hal yang penting dalam komposisi  musik Baroque, namun alat musik keyboard yang berkembang pada zaman Baroque, yakni harpischord dan organ, tidak mampu untuk menghasilkan rentang dinamika suara yang lebar. Walaupun dinamika musik Baroque tidak lebar, bukan berarti musik Baroque tidak memiliki efek dramatis. Energi dramatis tetap terasa dari awal hingga akhir sebuah komposisi Baroque, namun berada pada level yang cukup konstan. Sekali lagi,  artikulasi melebihi dinamika dalam musik Baroque.

Let’s take some examples of Baroque music… Cuplikan partitur di bawah adalah lagu “All We Like Sheep, Have Gone Astray” dari Messiah karya George Frideric Handel, salah satu komposer musik besar pada zaman Baroque yang berasal dari Inggris.

Perhatikan bahwa birama yang digunakan adalah 4/4. Dalam birama 4/4, ada suatu ordo natural yang disebut strong-beat dan weak-beat. Dalam 4 ketuk tersebut, yang terasa kuat ialah ketukan 1 dan 3, sedangkan ketukan 2 dan 4 lebuh lemah. Hal yang sama juga terdapat dalam speech, dalam suatu kata ada suku kata yang kuat, ada yang lemah. Misalnya dalam bahasa Inggris, kalau kata “Excellent” diucapkan, suku kata “ex” lebih kuat daripada suku kata “cellent”. Musik Baroque dalam menentukan ritme dan penempatan teks sangat memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Dalam contoh di atas terdapat teks “All we like Sheep, have gone astray. We have turned ev’ryone to his own way”. Kalau teks ini diucapkan, maka akan berbunyi seperti ini (huruf besar melambangkan suku kata yang diucapkan kuat dan huruf kecil melambangkan suku kata yang diucapkan lemah):

all WE like SHEEP, have GONE astray. we have TURNed  ev’ry ONE to his own WAY

Lihat penempatan teks dalam lagu tersebut. Suku kata yang kuat terletak di ketukan 1 atau 3 yang merupakan strong-beat, dan suku kata yang lemah terletak di ketukan 2 atau 4 yang merupakan weak-beat.

Dari segi melodi, arti dari kata-kata digambarkan dengan sangat baik oleh Handel melalui musiknya. Kata-kata “All we like sheep” dinyanyikan secara serentak oleh keempat section (sopran, alto, tenor, bass) yang bersama ingin menyatakan bahwa kita semua seperti domba. Kemudian diikuti dengan frase “Have gone astray”. Pada kata “astray” sebagai bagian dari frase “gone astray”, terlihat bahwa nada sopran bergerak naik sedangkan nada tenor bergerak turun. Kata “gone astray” yang berarti tersesat digambarkan oleh terpecahnya nada yang dinyanyikan oleh sopran dan tenor kemudian alto dan bass. Satu bergerak naik, sedangkan satu bergerak turun, keduanya tidak bergerak ke arah yang sama. Kemudian pada frasa “we have turned everyone to his own way” sopran, alto, tenor dan bass tidak bernyanyi secara bersamaan melainkan sendiri-sendiri secara bersahut-sahutan, menggambarkan “everyone to his own way”, tiap-tiap orang megambil jalannya sendiri-sendiri. Ketika tiap suara menyanyikan kata “turned”, Handel menggunakan not dengan durasi yang pendek (1/32) dan nadanya naik turun untuk menggambarkan perputaran, pengubahan arah yang terus menerus. Style lagu ini begitu lincah dan riang (lihat accompaignment nya), seperti sedang menggambarkan domba-domba yang lincah berlari kesana kemari. Melalui musik, Handel berusaha menyampaikan message bahwa kita semua seperti domba yang dengan lincah bergerak terpencar satu dengan yang lain, bergerak sendiri-sendiri ke sana kemari sesuka hati, sehingga tersesat. Kata-kata dan musiknya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Let’s take another example. “Fecit Potentiam” dari Magnificat in D Major karya Johann Sebastian Bach, salah satu komposer Baroque terbesar yang berasal dari Jerman. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Musik yang digunakan Bach untuk mendeskripsikan frase “Dispersit superbos” (bahasa latin, terjemahan bahasa Inggris : scatter the proud) sangat cocok dengan arti frasa tersebut. Pada kata “dispersit” (scatter), nada yang dinyanyikan sopran-alto-tenor-bass turun, tapi pada interval yang jauh, bersahut-sahutan secara acak, menggambarkan kondisi jatuh hancur berkeping-keping. Kemudian suara sopran-alto-tenor-bass kembali menyatu pada kata “superbos” (the proud), namun interval nada tiba-tiba melompat tinggi, dan chord yang digunakan adalah chord yang terkesan “remote” , yakni E#dim, nggak nyambung dengan chord sesaat sebelumnya, A mayor, dan nggak nyambung juga dengan tangga nada D mayor yang digunakan di lagu ini. Dalam tangga nada D mayor, chord yang terdengar masih dekat dan nyambung itu adalah D mayor, A mayor, G major, B minor, E minor, dan F#m.  Chord E#dim benar-benar terkesan remote, selain karena root yang digunakan E# , intervalnya diminished lagi, benar-benar “remote”.  Akibatnya kata “superboss” (the proud) ini terdengar kasar, tajam (scathing) dan terkesan jauh (remote).      

Musik boleh dikatakan mencapai puncak intelektualitas pada zaman Baroque ini. Seperti telah kita lihat bersama sebelumya, bahwa musik Baroque sangat detail, kaya akan ornamen, kompleks, dan menekankan artikulasi. Para komposer musik Baroque, seperti Handel dan Bach, benar-benar menentukan melodi, harmoni, dan ritme dari afeksi teks yang hendak mereka ekspresikan sehingga walaupun musiknya bisa dibilang bernilai tinggi, namun artinya lebih mudah dimengerti dibandingkan musik Renaissance karena musik Baroque yang digubah menggambarkan afeksi dari teks. Bandingkan dengan musik Renaissance yang hanya memperhatikan keindahan struktur dari musiknya tanpa memperhatikan afeksi dari teks. Akan tetapi rentang dinamika musik Baroque belum terlalu lebar, sehingga bisa dikatakan efek dramatis melalui dinamika masih kurang.

Salah satu value yang bisa disimpulkan dari musik Barouque adalah transenden sekaligus inkarnasional. Musik Baroque bernilai tinggi, namun pesan yang ingin disampaikan komposer tidak sulit untuk dipahami. Meaning yang hendak disampaikan bisa dimengerti dengan mudah, namun tidak berarti musik Baroque bernilai rendah. Dua atribut yang paradoks ini melekat pada musik Baroque. Value lainnya ialah satu kesatuan utuh antara teks dan musik. Tidak ada yang lebih dominan. Teks membentuk musik, dan musik menerangkan teks. Ada 2 hal yang berbeda, namun tidak saling berbenturan satu dengan yang lain, tidak ada yang dominan diantara keduanya. Keduanya bersinergi, membentuk kesatuan harmoni yang sangat indah.   

Sumber :     
1. Wikipedia (www.wikipedia.org)
2. Artikel “Musik dan Perkembangannya” by Jethro R
3. A Music Course for Students (Geoffrey Winters with D.E.Parry Williams), Oxford Univesity Press

Posted by: adhiwin | April 26, 2008

A Return, or A Gift ?

“Aku tanya, apakah kau siap?” tanya sang singa.

“Ya, jawab diggory. Dia sempat punya ide gila untuk menjawab, “Aku akan berusaha membantumu, kalau kau berjanji mau menolong ibuku”, tapi dia sadar tepat pada waktunya bahwa sang singa bukanlah sejenis makhluk yang bisa kau ajak tawar menawar…. Tenggorokannya pun terasa tersumbat dan air mata mengalir deras saat dia merepet :

“Tapi aku mohon.. aku mohon..maukah kau.. bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa menyembuhkan ibuku?”. Hingga saat itu dia terus menatap kaki besar sang singa dan cakar-cakar raksasa yang ada di sana, tapi kini, dalam keputusasaan, dia menatap wajahnya.

…………..

“……………..Petik sebuah apel  dari pohon itu dan bawalah kepadaku”, kata sang singa.

……………………………..

“Tidakkah kaulihat, bodoh, bahwa satu gigitan apel itu saja bakal bisa menyembuhkan ibumu ? Kau telah memilikinya di sakumu. Hanya ada kita di sini dan sang singa jauh di tempat lain……. Semua  akan baik-baik lagi. Rumahmu akan bahagia lagi….”, kata sang penyihir.

“Oh” Diggory terperangah seolah dia telah dilukai, dan meletakkan tangan di kepala. Karena dia tahu kini pilihan paling buruk ada di hadapannya.

“Apa yang telah dilakukan sang singa untukmu sehingga kau rela menjadi budaknya ?” tanya sang penyihir. “Apa yang bisa dilakukannya padamu setelah kau kembali ke duniamu sendiri ? Dan apa yang ibumu pikir kalau saja dia tahu kau bisa saja menghilangkan rasa sakitnya, mengembalikan hidupnya, dan menyelamatkan hati ayahmu dari rasa sedih, tapi kau tidak melakukan itu, bahwa kau lebih memilih memenuhi permintaan seekor binatang liar di dunia asing yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu?”…… “Lihatlah apa yang sudah dilakukannya kepadamu, lihatlah betapa dia membuatmu tidak berhati. Itulah ulahnya kepada semua orang yang mendengarkannya. Kau menjadi anak lelaki yang kejam dan tidak berbelas kasih! Kau lebih memilih membiarkan ibumu sendiri mati daripada….“

“Oh, diamlah”, kata Diggory kesal , maih dengan suara yang sama, “Kau pikir aku tidak menyadari itu? Tapi aku.. aku sudah berjanji”

…………..

“ Tunggu dulu, sebenarnya apa pedulimu dengan semua ini ? kenapa mendadak kau begitu memperhatikan ibuku ? Apa untungnya buatmu ? Apa permainanmu ?”

…………..

“Pergilah kalau begitu, dasar bodoh”, teriak sang penyihir.

…………………………..

Diggory berjalan menghampiri Aslan, menyerahkan apel di sakunya kepada singa itu, lalu berkata : “Aku membawakanmu apel yang kau minta, Sir”

“Bagus sekali” Kata Aslan dengan suara yang menggetarkan bumi.       

………………………

“Ya, Aslan. Dia membujukku membawa pulang apel untuk ibuku”

“Mengertilah kalau begitu, apel itu memang akan menyembuhkannya, tapi bukan demi kebahagiaanmu atau kebahagiaannya. Akan datang suatu hari ketika kalian berdua  bakal melihat ke belakang dan berkata dia lebih baik mati karena penyakit itu. “

Dan Diggory tidak bisa mengatakan apapun karena air mata telah membuatnya tersedak dan dia telah melepaskan semua harapan menyelamatkan nyawa ibunya.

(“The Magician’s Nephew” from The Chronicles of Narnia by C.S.Lewis)

 

First, I started asking what I really want.  furthermore, it is absolutely good, in my point of view, when my wish is not only just for myself but also for others’ goodness. Then, in the name for others’ goodness, I asked my wish in more intense      , until I made a bargain and an appointment.  A bargain that is only I agree with it, with no confirmation from the other side.  An appointment, that I am the only one its ruler maker.

Unfortunately, NO answer…….  But It’s OK, I am a good man, so I was still doing my assignment & responsibility even though my desire had not been fulfilled yet. Not only just doing the assignment, but I did the best. I was struggling very hard to pass the difficult path. Then I win! I had done my assignment very well.

Then, I re-started asking the same wish.. Hey, c’mon.. I had done this. Based on our agreement, I should’ve got my remuneration. But, do you know what I heard?

“Good work, son. You’ve done your job well. But it is My right to determine that your wish will be fulfilled or not. It’s not your business“

WHAT THE ……????? !!!!!  HEY !!! I’ve done this for You ! I worked so hard for it and did my best to achieve Your target. Yeah.. I should’ve known before that I should not obey You, that I should not do Your assignment, coz I got NOTHING afterwards. NOTHING but just a statement that very very bad.. After what I had done ?????? It’s absolutely not fair at all !!!!

But wait a minute.. THINK !!! Answer these questions first before you continue your brutal action…

 

Do you really think that you gave such a very big contribution to His work,

or

you were given a special opportunity (that actually you’re not deserved to get) to be a part of it ?

 

Do you think that you have a right to get your wish fulfilled,

or

He that has a right to receive your work?

 

Do you think you know that your wish is really what you need,

or

you have another very important need that you do not know?

 

Do you think your wish fulfillment is a return of your works,

 or

a gift, a bonus ?

 

Hmmm… Hey the story has not finished yet.. So, let me finish the story first….

Namun di saat yang sama dia tahu sang singa tahu apa yang bakal terjadi, dan bahwa mungkin ada hal-hal yang lebih buruk bahkan daripada kehilangan seseorang yang kaucintai karena dijemput kematian. Tapi kini Aslan berkata lagi, hampir dengan bisikan :

“Itulah yang akan terjadi, nak dengan apel curian. Bukan itu yang aan terjadi sekarang. Yang akan kuberikan kepadamu sekarang akan membawa kebahagiaan. Apel ini tidak akan membawa kehidupan abadi ke duniamu tapi akan menyembuhkan. Pergilah petikkan ibumu sebuah apel dari pohon ini. “

Selama beberapa saat Diggory nyaris tidak bisa mengerti. Seolah seluruh dunia telah jungkir balik dan tercampur baur. Kemudian seperti seseorang dalam mimpi, dia berjalan menghampiri pohon itu……. Dia memetik apel dan memsukkannya ke saku. Kemudian dia kembali ke Aslan.

So.. Clear ??? The last answer is : It’s a Gift !! It’s a bonus !!! Not because the story is end like this. Even though the story is not a “happy ending” story,  the last answer is still the same : It’s a Gift !! It’s a bonus !!!

Posted by: adhiwin | April 20, 2008

From Renaissance to Romantic (Part One)

As I told you before, I really love “classical music”. I would like to share the development stage of this music from Renaissance to Romantic. Although music had been known far behind this Renaissance age (Medieval age backwards), I will only choose Renaissance, Baroque, Classical, and Romantic. In my opinion, it is enough to represent European music development stage.

Let’s start with Renaissance Music !!!!

School of Athens by Raphael Sanzio

“School of Athens” karya Raphael Sanzio

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang Renaissance Music, let’s see perkembangan budaya pada zaman Renaissance (sekitar tahun 1400 – 1600). Istilah Renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti lahir kembali (rebirth) (re – kembali, dan nascere-dilahirkan). Mengapa disebut lahir kembali ? Karena pada zaman tersebut banyak orang yang mulai mempelajari kembali warisan pengetahuan dan kebudayaan kuno yang dimiliki nenek moyang mereka, yakni Yunani dan Romawi. Semangat zaman ini sangat berbeda dengan semangat zaman Medieval Age sebelumnya yang sangat menekankan spiritualitas yang tansenden.

Ciri khas karakteristik zaman renaissance adalah semangat humanisme. Humanisme bukan dalam arti filosofi humanisme, melainkan metoda belajar.. Para humanis mempelajari kembali pengetahuan dan budaya kuno dan mengkritisinya dengan argumen logis dan bukti, bukan hanya sekadar mebahas isi tulisan A bertentangan dengan tulisan B, seperti yang dilakukan di zaman Medeival sebelumnya. “The genius of man… the unique and extraordinary ability of human mind”… Mengembalikan manusia ke nilai semula yang memiliki dignity, itulah semangat zaman Renaissance.

Semangat ini begitu terasa di semua lini kebudayaan dan pengetahuan.

 

Vitruvian Man by Leonardo da VinciDi bidang visual art, manusia digambar sesuai dengan proporsi aslinya, cara menggambar perspektif, teknik pencahayaan dan bayangan dalam lukisan mulai berkembang. Leonardo da Vinci dan Michelangelo bisa dikatakan sebagai icon di zaman ini. Like all of you know that da Vinci is not only an artist, but also a scientist. Untuk menghasilkan lukisan manusia yang sempurna, ia menyelidiki proporsi geometri tubuh manusia yang menjadi karya Vitruvian Man yang sangat terkenal itu.

Di bidang arsitektur, para arsitek menggunakan kembali bentuk arsitektur Grika (Yunani kuno) dan Romawi. Salah satu contohnya ialah bangunan “Tempietto di San Pietro” di Montorio yang meniru style arsitektur “Temple of Vesta” di Roma yang dibangun pada tahun 250 M.

(Kiri : “Temple of Vesta”; Kanan : “Tempietto di San Pietro”)

 

 

 

 

 

 

Style arsitektur zaman ini menekankan simetri, proporsi, geometri, dan keteraturan dari tiap bagian seperti arsitektur Grika & Romawi. Keteraturan kolom dan pilar, serta penggunaan kubah dan lengkungan setengah lingkaran adalah ciri khas arsitektur zaman ini, mengganti style yang kompleks dan profil yang tidak teratur di zaman Medieval sebelumnya (salah satu contoh style zaman Medeival adalah Gothic). Salah satu icon bangunan yang sangat terkenal mewakili zaman ini adalah St. Peter’s Basilica.

(Kiri : St. Peter’s Basilica; Kanan : Salah satu contoh gaya arsitektur Gothic)

St.Peter Basilica

 

 

 

 

 

Musik Renaissance sangat terkait erat dengan karakteristik era Renaissance ini. Seperti halnya arsitektur dan visual art, musik Renaissance mementingkan bentuk, proporsi, dan keteraturan.

Seperti pada bidang lainnya, orang zaman ini mulai mempelajari kembali musik yang telah ditemukan oleh orang Yunani kuno. Salah satunya ialah temuan pythagoras (Ahli Matematika Yunani Kuno) mengenai interval dan perbandingan frekuensi. Pythagoras menemukan bahwa sebuah nada yang dihasilkan dari sebuah senar dalam dua bagian yang memiliki perbandingan sederhana, seperti 2:1, 3:2, atau 4:3 bersuara harmonis. Ketiga perbandingan tersebut didefinisikan sebagai perfect interval dalam musik (oktaf – do ke do tinggi, fifth – do ke sol, dan fourth – do ke fa). Ketiga interval ini disebut memiliki konsonan tertinggi (terdengar paling harmonis) – nada yang tidak terdengar harmonis disebut disonan, seperti second : do ke re, seventh : do ke si – . Galileo, seorang scientist yang hidup pada zaman Renaissance, mengatakan hal ini : ”Agreeable consonances are pairs of tones which strike the ear with a certain regularity; this regularity consists in the fact that the pulse delivered by the two tones, in the same time, shall be commensurable in number, so as not to keep the eardrum in perpetual torment, bending in two different directions in order to yield to the ever-discordant impulses. “

Musik Renaissance yang mementingkan proporsi memberikan pernanan penting pada perfect interval yang sangat konsonan, terutama oktaf dan fifth terkait dengan alasan memiliki perbandingan frekuensi yang sederhana. Giovanni Pierluigi da Palestrina, seorang komposer dari Italia yang sangat terkenal pada zaman Renaissance membatasi musiknya pada salah satu syarat yang dia kembangkan sendiri : ”Dissonances are either passing note or off the beat. If it’s on the beat, it is immediately resolved”.

Tekstur musik Renaissance adalah Polyphony (bentuk komposisi musik yang terdiri dari 2 melodi atau lebih yang independen satu dengan yang lain). Hubungan antara melodi yang satu dengan yang lain menggunakan bentuk Counterpoint (Chord yang bergerak secara bersamaan menghasilkan suara simultan yang saling berpautan), yang independen dalam ritme dan kontur, tetapi dependen dalam harmoni. Waduh ngomong apaan nih ???? It may difficult to imagine this, so to make easier to be understood, let’s learn from example below.

Musik yang sering kita dengar biasanya terdiri dari melodi dan iringannya (harmoni). Seperti seorang penyanyi solo bernyanyi diiringi piano, penyanyi solo berfungsi sebagai melodi dan piano berfungsi sebagai iringan (harmoni). Penyanyi (Melodi) lebih dominan dari piano (iringan) karena ia adalah aktor utama saat itu. Tapi bentuk polyphony tidak seperti ini. Tidak ada satu bagian yang lebih dominan dari bagian lainnya. Semuanya adalah melodi, tidak ada yang berfungsi sebagai iringan. Semua bagian penting, tidak ada yang besifat sebagai secondary layer. Satu contoh paling sederhana mengenai bentuk ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh dua orang yang secara kanon (keduanya menyanyikan nada yang sama, namun pada waktu yang berbeda, yang satu baru mulai menyanyikan lagu yang sama di pertengahan lagu yang dibawakan orang pertama, namun secera ritmik tetap terdengar harmonis dan teratur secara ritmik, tidak kacau).

Bentuk musik yang seperti itulah yang ada di zaman Renaissance ini. Biasanya didahului oleh suatu melodi tema, yang disebut cantus firmus, kemudian diikuti oleh melodi lainnya yang memiliki tema bentuk yang sama tetapi mungkin nada yang berbeda. Flow musik Renaissance terdengar sangat dinamis (dynamic flowing), tidak kaku dan statis.

Let’s see 2 contoh komposisi Musik Renaissance di bawah :

“Kyrie” from “Missa Assumpta est Maria” – Giovanni Pierluigi da Palestrina

“Haec Dies” – William Byrd

Kedua kompossi tersebut didahului oleh satu melodi tema (tenor untuk lagu “Kyrie”; sopran untuk lagu “Haec Dies”) kemudian diikuti oleh melodi lainnya dengan bentuk tema yang identik. Melodi yang mengikuti melodi tema awal tidak sama persis melainkan melodi ke-5 (fifth) dari tangga nada yang dipergunakan (di lagu “Kyrie”, tenor memulai dengan nada do diikuti Cantus II kemudian Cantus I dengan nada sol; di lagu “Haec Dies”, Superius memulai melodi dengan nada do, diikuti Countertenor dengan nada sol). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, interval fifth merupakan salah satu interval yang memegang peranan penting pada zaman ini karena proporsi frekuensinya. Hal itu diaplikasikan di kedua contoh komposisi Renaisssance ini. Kemudian melodi-melodi lain dengan tema yang identik mulai masuk bergantian. Semua part dominan, tidak ada part yang menjadi secondary layer. Semua part melodi, tidak ada yang menjadi iringan. Walaupun semua menjadi melodi, tidak terdengar kacau, melainkan terdengar begitu teratur dan harmonis.

Karakter musik Renaissance sangat mementingkan bentuk, dan tidak terlalu mempedulikan isi, arti, teks, ekspresi dari musik itu sendiri. Meminjam istilah Jethro : ”form over function”. Jika mendengar melodinya saja tanpa melihat kata-katanya, akan sulit untuk menebak apa isi dan ekspresi dari lagu tersebut, apakah berbicara tentang pujian, permintaan, atau kesedihan….

Filosofi yang bisa didapatkan dari musik Renaissance ini adalah ”Unity in Diversity”. Walaupun setiap suara dominan dan memiliki nada yang berbeda, tetapi tetap terdengar teratur dan harmonis. Sama seperti tiap manusia memiliki status yang sama, tapi masing-masing berbeda dan begitu unik. Jika tiap mereka bisa menjalankan peran mereka yang berbeda-beda dengan baik, akan terbentuk suatu sinergi kesatuan harmoni yang sangat indah. Beragam namun tetap teratur. Beragam namun tetap menghasilkan satu sinergi.

Sumber :

  • Wikipedia (www.wikipedia.org)
  • Artikel ”Musik dan Perkembangannya” by Jethro R
  • Buku ”The Science of Sound” by Thomas D. Rossing, Richard F. Moore, & Paul A. Wheeler
Posted by: adhiwin | April 11, 2008

Καιρόσ dan χρόνοσ

Jam menunjukkan pukul empat sore. Langsung kutelpon adikku dari kantor ”Sem, loe ada di mana ?” Terdengar jawaban dari gagang telepon ”Gw masih di Cawang macet banget” Wah.. langsung terlintas dalam benakku.. Pasti telat nih..

Hari itu memang hari yang kutunggu-tunggu dalam seminggu itu. Ada konser ”The Glory of The Violin” dari Mr. Robert Brown. Kesempatan kayak gini langka banget, ditambah aku memang sangat hobi mendengarkan konser “classic”, apalagi yang ada penjelasan mengenai interpretasi musiknya. Suatu kesempatan yang tidak akan kulewatkan.

Lanjut ke cerita awal.. Lalu kutunggu adikku yang akan dating sambil meneruskan pekerjaan yang tersisa hari itu.. Sekitar jam lima, HP ku berdering ”Halo..”, kataku. ”Ko, gw udah di depan nih”, sahut adikku. ”OK gw ke sana”. Aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan keluar.. Eh.. ternyata hujan deras.. Tapi aku tidak menghiraukannya.. Aku berlari menuju mobil.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana membosankannya berada di mobil memandang keluar jendela melihat pemandangan jalan yang sangat padat, macet, rusak, becek lagi.. Yang jelas jalan sangat macet sehingga kami baru tiba di semanggi jam tujuh malam.. Wuih.. Saat itu aku langsung bergumam.. Wah sekarang konser baru mulai.. Udah telat nih.. Dan macet tidak berhenti.. Mobil tetap bergerak merayap.. Rasa kesalku mulai muncul..

Yang tidak kuduga terlintas dalam pikiranku adalah.. Wow.. apakah aku sedang tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal yang aku suka ? Apakah aku tidak diberi waktu untuk menikmati musik yang indah lagi karena aku pun tidak memberikan waktuku untuk hal lain selain kerja dan kerja ? pikirku..

Aku pun mulai berpikir lagi.. Seharusnya kugunakan waktuku untuk banyak hal lain yang sangat berguna.. Tidak melulu buat kerja doank.. No excuse untuk memperbolehkan diriku berkata ”Aku tidak punya waktu untuk itu” Karena walaupun hal lain itu tidak urgen, tapi penting.. Tidak seperti kerjaan yang selalu urgen.. Penting karena aku bisa meng upgrade pengetahuan diriku untuk nantinya dibagikan ke orang lain, penting karena aku bisa mencoba mempebaiki karakterku untuk menjadi anak yang lebih baik, penting karena aku punya waktu untuk berbagi dengan orang lain, penting karena aku bisa terlibat dalam pekerjaan yang membuat orang lain jadi lebih baik..

Seharusnya aku mengalokasikan waktuku juga untuk belajar kebenaran, berdoa bagi orang lain, menikmati musik yang benar dan berusaha menginterpretasikannya untuk di share, belajar bahasa, menanyakan kabar saudara dan teman-temanku, memperhatikan keluarga terdekat dan sahabat-sahabatku, merencanakan masa depanku (finansial, pendidikan lanjutan, pasangan hidup, dll…) agar menjadi anak yang bertanggung jawab menjalankan hidup penuh anugerah yang telah diterima..

Waktu adalah anugerah.. Chronos & Kairos adalah anugerah.. Tapi aku tidak memanfaatkan, menjalankan, dan memberi kesempatan bagi Kairos itu untuk ada dalam waktuku.. Hanya sekadar manjalankan Chronos yang selalu rutin berputar.. Seharusnya, rutinitasku tetap terisi dalam Chronos, tapi aku juga akan mempersilakan Kairos mengisi keseharianku.. Kairos ketika aku bisa melihat diriku semakin baik dalam menjalankan tugasku di dunia ini, ketika aku bisa melihat orang lain menuju kebenaran dan aku diberi kesempatan istimewa turut berbagian di dalam pekerjaan itu, ketika aku mau menyangkal diri, ego, dan keinginanku untuk tunduk pada kehendak-Nya..

Akhirnya, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan ketika aku sampai di gedung konser.. Sudah terlambat satu setengah jam! Kami menunggu 1 lagu selesai dibawakan kemudian mengendap-ngendap duduk, takut mengganggu orang yang sedang nonton. Mr. Robert Brown memberi pengantar singkat mengenai lagu dari Vivaldi yang akan dia bawakan.

Tak terasa dalam waktu 15 menit lagu itu selesai, dan ketika aku melihat lembar acara.. Wah.. ini kan lagu terakhir.. Jadi selesailah konser malam itu.. Hanya mendengar konser 15 menit harus dibayar dengan perjalanan pergi 3 setengah jam ! What a thing !!! Yah.. Sepertinya aku sedang belajar mengenal kembali Kairos & Chronos saat itu.. Thanks for remind me the mystery of time !!

Akhirnya aku pulang bersama si Sem bukan dengan perasaan gondok karena merasa sia-sia, tapi dengan diiringi tawa seolah mentertawakan diri yang bodoh serta mentertawakan bahwa kami hanya duduk 15 menit untuk mendengarkan 1 lagu sementara perjalanannya makan waktu 3 setengah jam…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories